Motor Ihsan baru saja berhenti di depan ruang guru ketika beberapa guru yang kebetulan datang bersamaan sontak melirik ke arah mereka.“Saya pulang dulu nya, Neng,” ujar Ihsan setelah Eca turun dari motor.Seperti biasa, Eca meraih tangan pria itu dan menciumnya singkat sebelum berkata, “Akang hati-hati.”“Iya, Neng.”Setelah itu, Ihsan kembali melajukan motornya meninggalkan halaman sekolah.“Ih, romantis amat pengantin baru keliatannya,” goda guru wanita berhijab itu sambil tersenyum jahil. “Tumben dianter lagi, Bu?”“Iya, Bu,” jawab Eca sambil tersenyum kecil. “Katanya biar nggak pulang sendiri kalau sore.”“Oh …,” sahut guru lain langsung cekikikan. “Suaminya khawatir, soalnya Bu Ayesha nanti pulangnya abis ngelatih anak-anak dulu, nya.”Eca yang tadinya masih santai mendadak terdiam sepersekian detik mendengar ucapan itu.Khawatir?Selama ini ia tidak pernah benar-benar memikirkan sampai sejauh itu. Dalam pikirannya, Ihsan mungkin hanya sedang menjalankan tanggung jawabnya sebaga
Ler mais