تسجيل الدخول“Neng ….”Eca refleks membuka mata, meski posisinya masih membelakangi Ihsan. Tubuhnya diam di balik selimut, tetapi isi dadanya sama sekali tidak bisa tenang.Tadi, ia yang bertanya, tetapi sekarang tiba-tiba saja ia merasa takut.Takut kalau jawaban Ihsan justru membuat hatinya semakin sesak setelah ini.Suasana kamar sempat hening beberapa saat.Eca bahkan sampai tak sadar jemarinya sibuk memainkan ujung selimutnya sambil menahan napas, menunggu jawaban Ihsan.Detik berikutnya, pria itu akhirnya kembali bicara.“Saya nggak pernah suka sama Asih.”Jawabannya pelan dan tenang, tetapi cukup membuat dada Eca berdebar aneh.Jemari yang sejak tadi meremas ujung selimut perlahan terhenti.“Saya sama dia cuma teman sekolah,” lanjut Ihsan dengan nada tetap datar. “Dia datang ke rumah juga nggak pernah saya ajak. Datang sendiri.”Eca terdiam.Namun, di saat yang sama, isi kepalanya mulai menyimpulkan sendiri.Kalau begitu … selama ini sepertinya memang Asih memiliki niat untuk mendekati Ihsa
Sentuhan itu membuat Eca refleks mengangkat wajah.Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat.Untuk beberapa saat, Ihsan tidak langsung melepaskan tangannya. Rahangnya tampak sedikit mengeras, bahkan jakunnya bergerak samar seperti sedang menahan sesuatu.“A—akang kenapa?” tanya Eca terbata.Alih-alih menjawab, pria itu justru mengambil botol minyak kayu putih dari tangan Eca.“Saya oles sendiri aja, Neng.”“Oh … oke.”Eca buru-buru menarik tangannya sambil berusaha mengabaikan rasa malu yang mendadak memenuhi dada.Ia sempat berpikir jangan-jangan sikapnya tadi malah membuat Ihsan tidak nyaman.Astaga.Apa ia barusan terlalu berani?Tanpa berkata-kata lagi, Eca segera merebahkan tubuh sambil menarik selimut hingga mendekati dagu. Wajahnya ikut disembunyikan sedikit di balik kain selimut itu, seolah dengan begitu rasa malunya bisa ikut tertutup di balik selimut tebal.Ta
Mereka sudah hampir tiba di rumah ketika hujan turun semakin deras. Sandal Eca yang licin sampai beberapa kali nyaris terpeleset saat menginjak rumput karena berjalan sedikit tergesa.Di belakang mereka, Siti masih sibuk mengomeli Dedi.“Basah, kan, kita ayeuna! Gara-gara Papah teu mau denger Mama. Sekarang malah kehujanan kabeh.”Pria berbadan gempal itu malah nyengir santai sambil merapikan peci yang sudah basah. “Kan romantis, Mah.”“Romantis apanya? Masuk angin mah nanti,” cibir Siti.“Eta budak urang romantis pisan, rangkul-rangkulan. Urang dulu oge kitu waktu muda, Mah.”Eca hanya menahan tawa sambil buru-buru masuk ke teras. Tangannya sibuk mengusap pipi yang terkena tempias hujan, sekaligus menyembunyikan wajah yang sedikit-sedikit salah tingkah lagi.Ih. Lagipula, orang-orang kenapa pada suka memperhatikan dirinya dan Ihsan begini? “Neng cepat ganti baju,” ujar Ihsan sambil menyingkirkan jaket dari atas kepala mereka berdua.“Iya, Kang.”Segera saja, Eca berlari kecil menuj
Untungnya, acara dimulai tak lama setelah itu, sehingga ibu-ibu yang tadi sibuk menggoda Eca perlahan mulai mengalihkan perhatian.Satu per satu warga duduk rapi di atas karpet yang sudah digelar di ruang tengah. Para pria yang tadi masih mengobrol di teras juga mulai masuk mengisi tempat kosong yang tersisa.Anak-anak kecil yang sejak tadi mondar-mandir akhirnya ditarik duduk oleh ibunya masing-masing, meski beberapa masih terlihat gelisah sambil menggoyang-goyangkan kaki atau saling colek diam-diam.Suasana rumah yang tadi riuh berubah lebih khidmat sekarang, tetapi tetap terasa hangat khas kampung.Ihsan sendiri duduk di sebelah Eca. Tidak terlalu dekat sampai menempel. Namun, cukup dekat untuk membuat Eca sadar penuh akan keberadaan suaminya.Jujur saja, duduk sebelahan begini saja rasanya jantungnya masih suka berdebar aneh sendiri.Di depan sana, ustadz yang diundang pun mulai membuka acara dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Suaranya tenang, mengalun pelan memenuhi ruangan.S
Setelah selesai bersiap, Eca dan Ihsan akhirnya berangkat menghadiri acara syukuran di rumah anak Pak RT. Karena jaraknya tidak terlalu jauh, mereka memilih jalan kaki bersama Siti, Dedi, Kang Darma, dan Teh Reni. Udara malam di Mekarluyu terasa dingin dan lembap setelah sore tadi sempat turun gerimis kecil. Jalan kampung yang sedikit basah memantulkan cahaya lampu rumah warga, sementara suara jangkrik terdengar samar dari semak-semak pinggir jalan. Sesekali suara televisi dari rumah-rumah yang mereka lewati terdengar, diselingi obrolan warga yang masih nongkrong di teras sambil ngopi. Eca berjalan di samping Ihsan sambil memegang lengan pria itu pelan. Awalnya hanya karena takut tertinggal. Namun, lama-lama ia sadar sendiri kalau sebenarnya ia juga nyaman. Eh …. Apalagi setiap kali ada warga yang berpapasan, Ihsan tidak pernah menjauh ataupun terlihat risih digandeng seperti ini.
Tanpa menjawab pertanyaan Eca, Ihsan lebih dulu meraih ponselnya, membaca pesan yang baru masuk tadi sejenak, lalu meletakkannya kembali di meja, tanpa membalasnya.Setelah itu, sorot matanya yang dalam jatuh tepat ke wajah Eca yang sejak tadi berusaha terlihat biasa saja, meski ia tak dapat menyembunyikan nada bicaranya yang jelas berubah.“Asih teman SMA saya, Neng.”Eca menatap Ihsan lurus, seperti mencari-cari sesuatu di wajah pria itu. “Cuma teman?”“Hm.” Ihsan menjawab singkat, hingga membuat bibi Eca mengerucut kesal.Jelas ia tak puas hanya dengan jawaban seperti itu. Kalau memang cuma teman, kenapa terlihat begitu akrab? Sampai nanyain orang tuanya segala.“Tapi kemarin pas di kebun teh keliatan deket banget,” gumam Eca, hampir lirih. “Dia juga nanyain Mamah.”“Cuma kenal aja, Neng,” jelas Ihsan tenang.Ia sempat diam sejenak sebelum melanjutkan, “Waktu di Bandung, kita kenal sebagai sama-sama dari Kecamatan Sukamaju.”Eca masih diam mendengarkan.“Orang tuanya juga suka niti







