“Buka pintu, cepat!”Suara itu makin keras, bersamaan dengan pintu yang kembali digedor beberapa kali dari luar.“Aa Icaaan, penting ini!”Eca refleks menoleh ke arah pintu, sementara Ihsan sudah lebih dulu bangkit dari sofa. “Sebentar, Neng,” katanya.Eca hanya mengangguk kecil sambil memperhatikan punggung suaminya yang berjalan menuju pintu.Begitu pintu dibuka, ternyata Maman yang datang. Napas pria itu terlihat sedikit memburu seperti habis berjalan cepat di tengah hujan.“Aa, bentar …,” katanya pelan sambil melirik ke arah dalam rumah.Tatapan Maman sempat bertemu dengan Eca yang masih duduk di sofa ruang tengah. Eca mengernyit bingung melihat gelagat aneh pria itu.Ia makin tidak mengerti ketika Maman justru menarik Ihsan menjauh sedikit dari pintu, seolah tak ingin pembicaraannya terdengar sampai ke dalam rumah.Hal penting apa yang akan mereka bicarakan? Kenapa sampai segitunya?Namun, Eca yang tak mau terlalu ikut campur akhirnya mengalihkan perhatian dengan meraih toples k
Read more