登入Tanpa sempat berpikir jernih lagi, Eca buru-buru bangun dengan posisi terduduk sambil menarik selimut sampai ke dada. Wajahnya memerah malu, bahkan telinganya kini terasa ikut panas.
Jantungnya tiba-tiba saja berpacu cepat.Mentang-mentang semalam sudah tahu kalau Ihsan ternyata tidak pernah suka Asih, bukan berarti dirinya harus memeluknya seperti itu juga, kan?!Benar-benar kejadiannya di luar nalar.Astaga.Jangan-jangan sekarang Ihsan malah menSekitar tiga puluh menit menghabiskan waktu di kamar mandi, Eca akhirnya keluar dengan tubuh yang jauh lebih segar.Rambutnya masih sedikit lembap ketika ia melangkah keluar sambil mengeringkannya dengan handuk.Matanya refleks menyapu seisi kamar, mencari sosok Ihsan. Namun, pria itu ternyata sudah tidak ada.“Mana Kang Ican?”Eca mengernyit pelan, tetapi tidak terlalu memikirkannya.Ia beralih mengambil hairdryer lalu mulai mengeringkan rambutnya.Saat tak sengaja melirik ke arah balkon, barulah ia melihat Ihsan di sana.Pria itu tampak duduk santai sambil membaca buku dan menyeruput kopi.Eca langsung mendecih.Tadi di kamar mandi seperti singa kelaparan.Sekarang malah duduk kalem seperti tak pernah terjadi apa-apa.Setelah merasa cukup rapi, barulah Eca turun dari lantai dua.Udara sore langsung menyambutnya begitu kakinya akhirnya menapaki teras rumah.Seharian berada di dalam rumah, embusan angin hangat sore itu terasa menyenangkan di kulitnya.Eca menarik napas panjang sebelum
Tanpa menunggu lama, pria itu mulai menggerakkan pinggulnya. Maju mundur dengan ritme yang lambat namun menghujam dalam. Setiap kali ihsan menghantam ke dalam, Eca hanya bisa mendesah hebat, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, menikmati rasa penuh yang menjalar di perut bawahnya. “Ahhh ... ahh ... Kang Ihsan … pelanghh!”Namun, Eca merasa Ihsan seperti tak lagi benar-benar mendengarkan. Gerakannya kian tak terkontrol, seolah menahan sesuatu yang sudah di ambang batas.Tempo unggahannya semakin cepat. Suara decakan basah akibat penyatuan keduanya sampai terdengar memenuhi ruangan.Eca hanya bisa menggigit bibirnya, napasnya tersengal ketika kulit keduanya terus beradu, menciptakan suara tamparan daging yang makin cepat dan liar.Eca kelabakan, tubuhnya seolah kehilangan pijakan, mengikuti setiap tarikan dan gerakan Ihsan yang tak memberinya ruang untuknya benar-benar berpikir jernih.Tangannya memeluk leher ihsan semakin erat ketika bagian bawahnya terus dihantam sensasi panas
Mature Content (21+)Ihsan tidak menjawab.Namun, tatapan pria itu yang mulai menggelap sudah cukup membuat jantung Eca berdebar kencang.Padahal tadi, ia hanya berniat mencari kenyamanan dalam pelukan suaminya.Tetapi, memang sejak semalam, ada sesuatu yang berubah di antara mereka.Kini, setiap kali Ihsan memandangnya seperti itu, Eca tidak lagi merasa ingin menghindar.Sebaliknya, ada kehangatan yang perlahan memenuhi dadanya saat menyadari betapa diinginkannya dirinya oleh sang suami.Detik berikutnya, bibir hangat Ihsan sudah mendarat di atas bibirnya yang sedikit terbuka.Kali ini Eca tidak lagi terkejut seperti semalam.Ia bahkan mendongak sedikit, membiarkan Ihsan memperdalam ciuman itu sambil memejamkan mata perlahan.Kehangatan yang mengalir di antara mereka rasanya begitu akrab sekarang.Eca merasa seluruh tubuhnya perlahan ikut melunak.Di tengah ciuman yang semakin dalam itu, tangan Ihsan mulai bergerak menyentuhnya.“Emh ….”Desahan tertahan lolos dari bibir Eca saat ciu
Hari itu, keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja, seolah benar-benar ingin menikmati hari libur berdua. Matahari sudah bergeser cukup jauh ketika Eca akhirnya menyerah menatap layar laptopnya. Sejak tadi ia memang duduk di atas karpet ruang keluarga sambil menonton drama terbaru yang sedang ramai dibicarakan orang. Namun, entah kenapa, ia mulai merasa bosan. Sambil menghela napas panjang, Eca menutup laptopnya lalu meletakkannya di atas meja. Matanya beralih ke belakang. Ihsan masih berbaring santai di sofa panjang sambil menatap ponselnya dengan ekspresi serius. Dari suara yang samar terdengar, sepertinya pria itu sedang menonton sesuatu tentang politik lagi. Eca mengangkat bahunya santai, sambil menghela napas panjang. Kalau dipikir-pikir, nonton politik seperti itu jauh lebih membosankan daripada drama yang baru saja ia tinggalkan. Dasar pria. Setelah beberapa saat berlalu, entah dapat keberanian dari mana, Eca akhirnya bangkit dari tempatnya duduk. Ia m
Cahaya matahari sudah menyusup dari sela-sela gorden saat Eca membuka matanya keesokan pagi. Ia berkedip beberapa kali. Butuh beberapa detik baginya untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Lalu, ketika ingatan itu datang begitu saja. Eca spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Astaga. Rasanya ia ingin segera menghilang saja ke balik bantal. Pada akhirnya, selimut itu malah ia tarik sampai menutupi sebagian wajahnya sendiri. Tak lama kemudian, matanya melirik ke sisi ranjang. Kosong. Ihsan sudah tidak ada di sana. Eca mengerjap pelan. Pagi-pagi sekali pria itu pergi ke mana? Namun, ia tak terlalu memikirkannya. Cuma mengembuskan napas pendek sebelum akhirnya memaksa dirinya bangun dari ranjang. Hanya saja, baru saja kedua telapak kakinya menyentuh lantai, Eca langsung meringis tipis. Apa yang terjadi semalam rupanya masih meninggalkan bekas di tubuhnya. Tidak terlalu sakit, tetapi cukup membuat langkah pertamanya terasa sedikit aneh. Eca berdiri b
Tanpa menunggu lebih lama, Ihsan langsung membopong tubuh Eca dan membawanya ke dalam kamar tidur mereka. Kasur di bawah punggungnya berayun pelan saat Ihsan membaringkannya dengan sangat hati-hati, membuat Eca sesaat lupa pada rasa gugup yang sejak tadi mengikat dadanya.Ihsan segera menyusul, merengkuh tubuh Eca dalam pelukan yang hangat. Cara Ihsan memandangnya membuat Eca sulit menahan gemetar yang perlahan menjalari tubuhnya.Entah sejak kapan, pakaian yang semula melekat di tubuh keduanya kini telah terlepas sepenuhnya, menyisakan kulit yang saling bersentuhan tanpa pembatas.Eca bisa mendengar napas mereka yang semakin tidak teratur di antara sunyinya kamar.Meski sudah hampir dua bulan menikah, ini tetap yang pertama bagi mereka.Gerakan Ihsan terasa lambat dan hati-hati, seolah pria itu sengaja memberinya waktu untuk menyesuaikan diri. Eca sempat menggigit bibirnya menahan pe
Kening Eca mengerut tipis. Lagi-lagi kepalanya refleks menoleh, memandangi wajah Ihsan dari samping seolah mencari sesuatu dari ekspresi pria itu. “Kenapa Akang bilang gitu?” “Selain ngajar …,” jawab Ihsan santai, “harus banyak ngelus dada lihat tingkah siswanya.” Eca seketika tertawa lepas, s
Melihat dua siswi berantem sampai jambak-jambakan begitu malah membuat kepala Eca ikut pening.Terkadang perempuan memang sangat aneh. Sama-sama disakiti, tetapi yang adu jotos sampai saling menjatuhkan malah sesama perempuan.Eca menatap dua siswi itu bergantian. Kerudung
Setelah memastikan motor Ihsan benar-benar pergi, Eca akhirnya masuk ke ruang guru.Ia pikir situasinya sudah cukup tenang, tetapi rekan-rekan gurunya yang sudah datang malah ikut menggodanya.“Cie, Bu Ayesha sekarang ke sekolah diantar suami.”“Pengantin baru mah wajah
Saat Eca masih sibuk mencari alasan, Ihsan mendadak menyahut lebih dulu.“Harus aktif ikut kegiatan-kegiatan desa yang melibatkan warga juga, Pah,” ujarnya tenang.Eca spontan menoleh dengan napas yang masih tertahan.Untung saja pria itu cepat tanggap.







