Malam semakin larut di kawasan Jakarta Barat, tetapi di dalam unit apartemen tersembunyi yang disewa Ganza, lampu kerja masih menyala benderang. Viko berdiri di depan papan tulis putih besar, menghapus sisa-sisa bagan aliansi lama yang telah ia hancurkan dengan dokumen 'Clear'. Sepasang mata tajam pria berusia tiga puluh satu tahun itu kini terfokus pada nama baru yang sengaja ia tulis di posisi paling atas, yaitu Nuri Vega dan Stevani Adam."Langkah pertamaku untuk membebaskan diri sudah berhasil, Ganza," ujar Viko sembari memutar spidol hitam di jemarinya. Suara baritonnya terdengar tenang, tanpa ada lagi sisa-sisa depresi yang sempat menggerogoti mentalnya satu bulan lalu. "Sekarang saatnya menyerang balik ke titik paling lemah dari musuh-musuh kita. Dan titik lemah itu adalah hubungan duka di masa lalu antara Stevani dan ibu tirinya."Ganza, yang sedang memeriksa laporan pergerakan bursa saham Adam Group di laptopnya, menengadah. "Apa rencanamu, Viko? Stevani saat ini sedang
Leer más