Keheningan kembali merayap, mengisi sela-sela waktu yang berputar lambat di dalam ruang kerja itu. Reni menatap genggaman tangan kakaknya, meresapi setiap kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Reno. Tawaran untuk pindah sekolah, memulai dari selembar kertas putih yang bersih, dan meninggalkan semua bayangan hitam di masa lalu seolah menjadi oase di tengah padang gersang traumanya.Bibir Reni bergerak tanpa suara, mencoba menimbang keberanian yang selama ini terkunci rapat. Setelah beberapa menit yang terasa begitu panjang, ia akhirnya mengangguk pelan, sangat pelan, seolah takut keputusannya akan melukai hatinya lagi."Kalau... kalau di tempat baru tidak ada yang tahu tentang masalah itu... Reni mau coba, Kak. Reni juga tidak mau selamanya jadi penakut dan merepotkan Kakak," bisik Reni, air matanya menetes satu-satu, membasahi punggung tangan Reno.Reno mengembuskan napas panjang, sebuah kelegaan yang luar biasa besar menyeruak dari dadanya. Ia berdiri, lalu membawa adiknya ke
Last Updated : 2026-06-02 Read more