Malam pun jatuh menyelubungi kampung dengan keheningan yang terasa amat mencekam bagi Reni. Kegelapan seolah mempertegas bayangan jeruji besi yang terus menari-nari di pelupuk matanya. Di atas kasur kapuk yang sederhana di dalam kamar tamu rumah Bu Siti, Reni berbaring telentang. Matanya menatap langit-langit kamar yang redup, sama sekali tidak bisa terpejam walau sedetik pun. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, suara dentuman jeruji besi, tatapan tajam nan culas dari Jenderal Anton, dan wajah lebam kakaknya kembali hadir, menyergap kesadarannya hingga ia terengah-engah. Rasa bersalah yang teramat besar bergolak di dalam dadanya, terasa jauh lebih menyiksa ketimbang suhu tubuhnya yang masih naik-turun akibat demam yang belum sepenuhnya reda.Malam itu, Reni memang tidak tidur di rumahnya sendiri. Keadaan rumah yang kosong, gelap, dan digembok dari luar terasa terlalu mengerikan untuk ia hadapi sendirian dalam kondisi sakit. Bu Siti, dengan segala kebaikan hatinya, tidak tega me
Last Updated : 2026-05-24 Read more