Pagi itu, matahari merangkak naik dengan malas, seolah sengaja memperlambat waktu yang dirasakan Reno. Sejak bangun tidur, pemuda itu tidak pernah melepaskan ponsel retaknya dari genggaman. Setiap ada getaran kecil atau lampu notifikasi yang berkedip, jantungnya mencelos, mengira itu adalah perintah dari Nyonya Winda. Namun, hingga jarum jam menunjukkan pukul sepuluh, layar ponselnya tetap gelap. Tak ada pesan masuk. Reno duduk di kursi kayu ruang tamu, berpura-pura sibuk memeriksa tali sepatunya yang sebenarnya sudah rapi. Ia mengenakan kaus polo hitam yang paling layak ia miliki, yang mencetak jelas lekuk otot dadanya yang bidang. Ia ingin terlihat profesional, meski jiwanya yang polos terus-menerus dirundung kecemasan.Reni, yang baru saja pulang sekolah, duduk mendekat ke sisi kakaknya. Gadis itu kemudian bertanya."Kak Reno... katanya hari ini mulai kerja?" Reno tersentak, hampir saja menjatuhkan ponselnya. Ia memaksakan senyum tipis yang tampak kaku. "Iya, Ren. Ini... kak
Last Updated : 2026-04-06 Read more