Reno melangkah masuk ke dalam ruangan dengan ritme yang sangat santai. Suara sol sepatu boot-nya yang beradu dengan lantai kayu terdengar pelan namun mantap, memecah keheningan yang sempat menggantung di antara ketiga nyonya tersebut. Ia melepaskan jaket kulit hitamnya, menyampirkannya di sandaran kursi dekat pintu, lalu berjalan mendekati meja kaca tempat Winda, Helen, dan Ratna duduk melingkar.Reno langsung bisa menangkap sisa-sisa ketegangan yang tertinggal di udara. Wajah ketiga wanita di hadapannya masih tampak murung, dengan dahi yang berkerut dan binar mata yang redup akibat beban pikiran yang baru saja mereka diskusikan.Melihat pemandangan itu, seulas senyuman tipis terukir di sudut bibir Reno. Ia tahu, jika ia ikut membawa aura serius dan tegang ke dalam ruangan ini, mental para nyonya ini bisa semakin jatuh. Kali ini, ia memutuskan untuk menyimpan dulu sosok pelatih privat yang kaku, sopan, dan penuh formalitas yang selama ini sengaja ia pasang demi menghormati status so
Read more