Jakun Jeffry bergerak pelan, mengucapkan dua kata, “Nggak mau.”“Oh.” Suara Herman terdengar datar. “Ya sudah. Aku minum cukup banyak. Tidur dulu.”“Dari suaramu, kamu terdengar masih sanggup minum.”Jeffry langsung menyambung, “Minum sedikit lagi. Aku ke tempatmu.”Herman tak bisa berkata-kata.“Kalau kamu mau tahu, aku bisa langsung memberitahumu lewat telepon.”Jeffry, “Aku nggak mau tahu.”Nada suaranya begitu mantap, seolah-olah dia benar-benar hanya ingin minum untuk mengusir gerahnya malam musim panas di Kota Sentara.Rumah sakit telah menyediakan sebuah apartemen luas di pusat kota untuk Herman.Saat Jeffry tiba, pintu apartemen sudah terbuka. Jelas Herman sedang menunggunya.Jeffry membawa dua botol vodka berkadar alkohol tinggi dan satu botol anggur merah.“Tampaknya malam ini kamu mau membuatku mati karena minum.”Herman menerima botol-botol itu sambil membukanya. “Besok aku masih harus bekerja. Jadi, aku hanya akan menemanimu minum satu gelas.”Jeffry mendengus pelan, lalu
Read more