ログインUntung saja, demi memancing emosi Shelly, Shanen sempat mengirim banyak tangkapan layar percakapan kepadanya.Karena merasa terganggu, Shelly memang memblokir Shanen.Namun, dia tidak pernah menghapus riwayat chat mereka.Tak disangka, kini semua itu justru menjadi bukti yang berguna.Satu per satu tangkapan layar terkirim. Melly membacanya sekilas.Semakin banyak yang dia lihat, semakin suram pula wajahnya.Semua isi percakapan itu hanyalah tipu daya dan akal-akalan murahan.Cara Elora bertindak benar-benar membuat Melly merasa malu.“Bu Melly, apa pun masalah hubungan antara Pak Jeffry dan Nona Elora, mohon jangan menyeret saya ke dalamnya. Entah tujuan Nona Elora meminta Anda datang ke sini untuk melampiaskan kemarahannya kepada saya atau untuk memaksa Pak Jeffry kembali ke Tavira, saya nggak peduli. Saya hanyalah orang luar. Saya nggak seharusnya terlibat dalam masalah ini. Jadi, saya harap Anda bisa berbesar hati dan biarkan saya menjalani hidup saya dengan tenang.”Setiap kata Sh
Melly, “Mana mungkin! Masa aku sampai dipermainkan oleh perempuan seperti dia? Tenang saja. Aku akan memutus semua harapannya, membuatnya nggak lagi punya modal untuk mengikat Jeffry!”Di mata Melly, satu-satunya modal yang dimiliki Shelly untuk mengikat Jeffry adalah anak yang sedang dikandungnya.Apa yang ingin dilakukan Elora tak lain adalah mengaduk keadaan hingga semakin kacau.Pada akhirnya, orang yang terluka hanyalah Shelly dan orang yang paling diuntungkan adalah dirinya.Saat itu terjadi nanti, bukan hanya hubungan Shelly dan Jeffry yang akan sirna, bahkan mereka mungkin akan berubah menjadi musuh.…Semua perlengkapan persalinan hampir selesai dipersiapkan. Selama beberapa hari berturut-turut, Shelly bahkan tidak pernah keluar dari kompleks tempat tinggalnya.Setelah memasuki trimester akhir kehamilan, perutnya akhirnya terlihat membesar.Perut yang mulai menonjol itu membuat seluruh penampilannya tampak semakin lembut.Saryna mengatakan bahwa ibu hamil harus banyak bergerak
Jakun Jeffry bergerak pelan, mengucapkan dua kata, “Nggak mau.”“Oh.” Suara Herman terdengar datar. “Ya sudah. Aku minum cukup banyak. Tidur dulu.”“Dari suaramu, kamu terdengar masih sanggup minum.”Jeffry langsung menyambung, “Minum sedikit lagi. Aku ke tempatmu.”Herman tak bisa berkata-kata.“Kalau kamu mau tahu, aku bisa langsung memberitahumu lewat telepon.”Jeffry, “Aku nggak mau tahu.”Nada suaranya begitu mantap, seolah-olah dia benar-benar hanya ingin minum untuk mengusir gerahnya malam musim panas di Kota Sentara.Rumah sakit telah menyediakan sebuah apartemen luas di pusat kota untuk Herman.Saat Jeffry tiba, pintu apartemen sudah terbuka. Jelas Herman sedang menunggunya.Jeffry membawa dua botol vodka berkadar alkohol tinggi dan satu botol anggur merah.“Tampaknya malam ini kamu mau membuatku mati karena minum.”Herman menerima botol-botol itu sambil membukanya. “Besok aku masih harus bekerja. Jadi, aku hanya akan menemanimu minum satu gelas.”Jeffry mendengus pelan, lalu
Sementara Harrison menelepon seseorang, Shelly kembali menghangatkan sup penawar mabuk itu.Kali ini dia membiarkannya mendidih sedikit lebih lama.Beberapa saat kemudian, Harrison kembali dengan senyum lebar.“Shelly, aku benar-benar nggak menyangka suatu hari nanti aku bisa berteman dengan orang sepertimu.”Seorang teman perempuan.Bahkan mantan asisten musuh bebuyutannya.Shelly menyerahkan semangkuk sup yang sudah hangat. “Kalau memang kita berteman, justru harus tahu batasan. Setelah selesai minum, cepat pulang. Sudah larut malam, nggak pantas kamu berlama-lama di rumahku.”“Apa memangnya yang bisa aku lakukan pada ibu hamil berperut besar seperti kamu?”Diusir secara halus membuat Harrison langsung memasang wajah tidak senang.“Aku bukan mengusirmu.” Shelly tersenyum tipis. “Aku hanya nggak ingin kamu ikut terkena masalah.”Belum lama ini … berita tentang dirinya yang hamil di luar nikah sempat menjadi sorotan.Walaupun berhasil ditekan oleh Keluarga Gunawan, bukan berarti para w
Shelly menghabiskan sekitar sepuluh menit untuk membuat semangkuk sup penawar mabuk sederhana.Dia membawanya keluar dan meletakkannya di depan Harrison.Uap hangat mengepul di antara mereka.Di luar rumah, melalui jendela dapur, Jeffry langsung melihat pemandangan di dalam.Dari sudut pandangnya, Shelly dan Harrison tampak duduk berdampingan di ruang tamu.Alis Jeffry langsung berkerut.Tatapannya menjadi semakin dalam.Dia mengeluarkan sebatang rokok dari saku, menyelipkannya di bibir, lalu menyalakannya.Padahal di dalam rumah .…Shelly dan Harrison sebenarnya duduk dengan jarak hampir dua meter.Shelly menoleh kepadanya.“Sekarang kamu bisa mulai bicara?”Harrison meniup pelan sup panas di mangkuknya sebelum berkata, “Pengurus panti asuhan kalian … sudah menghabiskan semua uang yang kamu dan Saryna berikan.”Harrison menghela napas dengan nada menyesal. “Dia berjudi. Kamu tahu?”Mata Shelly langsung membelalak. Wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.“Kamu … nggak salah? “Aku nggak mu
Di dalam mobil … tangan Jeffry yang baru saja hendak melepaskan sabuk pengaman tiba-tiba berhenti.Tatapannya yang dalam tertuju pada Shelly yang membungkuk masuk ke dalam mobil.Tanpa sedikit pun keraguan … mobil Shelly langsung melaju pergi.Bibir Jeffry mengatup membentuk garis lurus.Rahangnya yang tegas tampak semakin kaku, sementara sorot matanya diselimuti kesuraman.Pandangannya terus mengikuti arah mobil Shelly hingga menghilang dari kejauhan.Di depan restoran … Diana juga baru saja keluar. Dia berdiri mematung, menatap mobil yang melaju semakin jauh.“Pergi. Minta rekaman CCTV dari pihak restoran,” perintahnya kepada sopir.Sopir itu segera berbalik untuk mengurusnya.Jantung Diana berdegup semakin cepat.Wajah cantik wanita tadi mengingatkannya pada dirinya sendiri saat masih muda.Walaupun dia merasa ucapan Bibi Yanti terlalu mustahil untuk dipercaya .…Entah kenapa, secercah harapan mulai tumbuh di dalam hatinya.“Nyonya Diana.”Diana menoleh. Seorang pria berdiri di bela
Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su
Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas
Shelly adalah anak paling berprestasi di panti asuhan. Karena nilai akademisnya sangat baik, dia diterima di universitas top dalam negeri dengan beasiswa penuh.Di sanalah dia bertemu Jeffry.Di antara begitu banyak pria dari kalangan elit, Jeffry begitu menonjol, langsung menarik pandangannya.Awal
Tengah malam, Shelly Malvis mengunggah sebuah foto bayi yang baru lahir, lengkap dengan keterangan: [Naik pangkat jadi Ibu! Putra sulungku!]Belum satu jam, pintu rumahnya sudah diketuk oleh mantan suami yang telah bercerai dengannya selama setengah tahun.Begitu pintu dibuka, wajah muram Jeffry lan







