Se connecterShelly menghabiskan sekitar sepuluh menit untuk membuat semangkuk sup penawar mabuk sederhana.Dia membawanya keluar dan meletakkannya di depan Harrison.Uap hangat mengepul di antara mereka.Di luar rumah, melalui jendela dapur, Jeffry langsung melihat pemandangan di dalam.Dari sudut pandangnya, Shelly dan Harrison tampak duduk berdampingan di ruang tamu.Alis Jeffry langsung berkerut.Tatapannya menjadi semakin dalam.Dia mengeluarkan sebatang rokok dari saku, menyelipkannya di bibir, lalu menyalakannya.Padahal di dalam rumah .…Shelly dan Harrison sebenarnya duduk dengan jarak hampir dua meter.Shelly menoleh kepadanya.“Sekarang kamu bisa mulai bicara?”Harrison meniup pelan sup panas di mangkuknya sebelum berkata, “Pengurus panti asuhan kalian … sudah menghabiskan semua uang yang kamu dan Saryna berikan.”Harrison menghela napas dengan nada menyesal. “Dia berjudi. Kamu tahu?”Mata Shelly langsung membelalak. Wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.“Kamu … nggak salah? “Aku nggak mu
Di dalam mobil … tangan Jeffry yang baru saja hendak melepaskan sabuk pengaman tiba-tiba berhenti.Tatapannya yang dalam tertuju pada Shelly yang membungkuk masuk ke dalam mobil.Tanpa sedikit pun keraguan … mobil Shelly langsung melaju pergi.Bibir Jeffry mengatup membentuk garis lurus.Rahangnya yang tegas tampak semakin kaku, sementara sorot matanya diselimuti kesuraman.Pandangannya terus mengikuti arah mobil Shelly hingga menghilang dari kejauhan.Di depan restoran … Diana juga baru saja keluar. Dia berdiri mematung, menatap mobil yang melaju semakin jauh.“Pergi. Minta rekaman CCTV dari pihak restoran,” perintahnya kepada sopir.Sopir itu segera berbalik untuk mengurusnya.Jantung Diana berdegup semakin cepat.Wajah cantik wanita tadi mengingatkannya pada dirinya sendiri saat masih muda.Walaupun dia merasa ucapan Bibi Yanti terlalu mustahil untuk dipercaya .…Entah kenapa, secercah harapan mulai tumbuh di dalam hatinya.“Nyonya Diana.”Diana menoleh. Seorang pria berdiri di bela
Dibandingkan restoran yang dipilih Bibi Yanti tadi, restoran ini jauh lebih terjangkau.Mereka memilih duduk di dekat jendela, memesan beberapa hidangan sederhana, lalu kembali membahas kejadian barusan sambil menunggu makanan datang.“Bibi Yanti juga belum bilang siapa yang mengurus panti asuhan sekarang.”Tiba-tiba Saryna seperti teringat sesuatu. Dia segera mengeluarkan ponselnya.“Aku tanya Jessica saja.”Sebelum meninggalkan Tavira, mereka memang sudah membelikan Jessica sebuah ponsel.Saat tinggal di asrama sekolah, ponselnya disimpan oleh guru.Namun setiap akhir pekan ketika pulang ke panti asuhan, Jessica bisa menghubungi mereka kapan saja.Kebetulan hari itu adalah hari Sabtu, dan Jessica sedang libur.“Anak itu memang beda dari yang lain. Nggak ada yang melarang pun dia jarang pegang ponsel. Mungkin sekarang lagi belajar dan ponselnya disetel mode senyap. Sudah lama sekali masih belum balas pesanku.”Saryna menunggu cukup lama, tetapi tetap tidak mendapat balasan.“Telepon s
Pelayan sudah berdiri di samping meja sambil menunggu mereka memesan. Namun Saryna terus saja membicarakan soal Keluarga Gunawan.Sebelum mengetahui apa sebenarnya yang terjadi, dia bahkan tidak sanggup makan.Shelly akhirnya menarik tangan Saryna untuk berdiri.Lalu dia berkata kepada pelayan dengan nada meminta maaf, “Maaf, kami mendadak ada urusan. Kami nggak jadi makan.”Saryna membiarkan dirinya ditarik keluar menuju mobil.Begitu masuk ke dalam mobil, dia langsung mulai menghubungi kenalan-kenalannya untuk mencari tahu tentang Keluarga Gunawan.Tidak jauh dari sana .…Di sebuah sudut yang tersembunyi, Bibi Yanti memperhatikan mobil Shelly dan Saryna pergi.Barulah dia menoleh kepada seorang wanita berusia sekitar empat puluhan yang berdiri di sampingnya.“Nyonya Diana … apa nyonya nggak merasa salah satu dari mereka sangat familiar?”“Apa sebenarnya maksudmu?” Diana Sulistiani menatapnya dengan tidak percaya. “Kenapa tiba-tiba membawaku melihat dua wanita itu?”Bibi Yanti langsun
Shelly dan Saryna saling bertatapan. Keduanya sama-sama menangkap sesuatu dari tatapan satu sama lain.“Tahu.” Shelly menjawab dengan nada santai sambil menunduk dan memainkan ponselnya, seolah tidak terlalu peduli.Bibi Yanti sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dan merendahkan suaranya. “Kalian sudah pernah berinteraksi dengan mereka?”Gerakan jari Shelly di layar ponsel langsung terhenti. Dia mengunci ponselnya, lalu menatap Bibi Yanti.“Kalau memang ada sesuatu, Bibi bisa langsung bilang saja.”“Kenapa bicara berputar-putar begitu?” Saryna akhirnya tidak bisa lagi menahan emosinya. “Memangnya kenapa? Bibi orang Keluarga Gunawan?”Bibi Yanti segera menggeleng. “Tentu saja bukan. Aku cuma mau ingatkan kalian untuk menjauhi orang-orang Keluarga Gunawan.”“Kenapa?” tanya Shelly singkat.“Nggak ada alasan. Memangnya aku akan mencelakakan kalian?”Wajah Bibi Yanti dipenuhi ekspresi seolah-olah dia benar-benar memikirkan kebaikan mereka. “Kalian berdua selalu begitu, dikasih tahu apa p
Jeffry, “Kamu bertanya padaku?”Maxwell langsung terdiam.Sikap Keluarga Gunawan terhadap Shelly memang terlalu mencurigakan.Namun kalau memang ingin menyelidikinya, mereka tetap membutuhkan arah.Kalau tidak, mereka bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.Jeffry berkata pelan, “Selidiki semua kemungkinan yang pernah kamu pikirkan.”Satu kalimat singkat itu berisi tugas yang luar biasa besar terhadap Maxwell.Maxwell berkali-kali ingin memohon belas kasihan, tapi pada akhirnya dia hanya menelan semua keluhannya. Sebab, dia tahu tidak ada gunanya mengatakannya.Meski dirinya harus bekerja sampai kelelahan, Jeffry tetap tidak akan peduli.Apa yang Jeffry inginkan hanyalah hasil.“Baik, Pak.”Terdengar ketukan di pintu kantor. Jeffry mengakhiri panggilan telepon, lalu berkata singkat, “Masuk.”Tania membuka pintu. Ekspresinya tampak sedikit panik.“Pak Jeffry, Bu Melly datang.”“Siapa?” Jeffry mengernyit dan menoleh.Tania mengulanginya, “Bu Melly.”Belum sempat kata-katanya selesai, Me
Hari itu, Elora benar-benar tidak ingin melihat wanita itu lagi, bahkan sedetik pun!Tidak lama kemudian, Jeffry keluar dari ruang istirahat sambil mengaitkan jam tangan abu-abu peraknya di pergelangan.“Kak Jeffry .…” panggil Elora dengan lembut.Dia dengan cepat mengembalikan ponsel ke tempat semu
Setiap kali bertemu di acara seperti ini, Harrison selalu mencari masalah dengan Jeffry.Namun karena dia bukan saingan Jeffry, dia pun memilih cara lain, yaitu mempersulit orang-orang di sekitar Jeffry.Salah satunya … Shelly.Shelly berbalik dan mengganti arah, berniat keluar lewat pintu belakang.
Di dalam aula.Ke mana pun Jeffry pergi, selalu ada orang-orang yang mengerumuninya.Dia sedang berbincang dengan beberapa senior di dunia bisnis, sementara orang lain terus datang silih berganti untuk menyapanya.“Kak Jeffry.”Elora berjalan mendekat, lalu dengan manis menggandeng lengannya.Lengan
Langkah Shelly tiba-tiba terhenti. Napasnya tertahan, wajahnya perlahan menjadi serius.“Ada apa?” Maxwell bingung. “Bukannya kamu yang minta Pak Jeffry memindahkanmu kembali?”Shelly menggeleng.“Bukan. Aku datang untuk mengundurkan diri.”Maxwell langsung menarik napas tajam.“Mengundurkan diri? K







