Jangsam mulai bergerilya. Menggunakan jari tengah dan telunjuk tangannya, ia mulai bermain di dalam gua surgawi Ye Seol, menari-nari dengan ritme yang teratur di dalam sana."Bagaimana rasanya sekarang?" ujar Jangsam, menyeringai penuh kemenangan. Ia tahu persis bahwa Ye Seol sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa dalam kondisi kedua tangannya yang terikat menggantung dan tubuhnya yang terpaksa terduduk lemas di atas lantai."Diam kau..." sahut Ye Seol dengan suara yang bergetar hebat. Ia mati-matian menahan kombinasi rasa geli, aneh, dan panas bergelora yang menjalar hebat ke seluruh tubuh hingga mengaburkan fungsi otaknya. Sensasi nikmat yang asing itu terus mengikis ego besarnya sebagai seorang kultivator jenius."Iya, iya... aku sudah tahu apa yang akan kau ucapkan," potong Jangsam remeh. Bukannya berhenti, ia justru semakin gencar mempermainkan tawanannya. Jari-jarinya merangsek masuk begitu dalam, memenuhi seluruh din
Read More