Lilin di sudut ruangan telah meleleh hampir habis, meninggalkan gumpalan lilin yang memanjang seperti air mata. Suasana di dalam kamar itu kini tak ubahnya tungku perapian—panas, pengap, dan penuh dengan aroma maskulin Jangsam yang berpadu dengan wangi Yin Yang milik kedua wanita itu.Ungal Yeo memposisikan dirinya dengan lutut menumpu di atas sprei yang kini sudah tak berbentuk. Napasnya masih menderu tak beraturan, setiap tarikan napasnya membawa aroma kejantanan suaminya yang masih melekat kuat di indra penciumannya. Ia menunggingkan bokongnya, sebuah pose yang memamerkan keindahan lekuk tubuhnya dengan cara yang paling vulgar. Liang surgawinya yang baru saja meledak, kini terasa berdenyut-denyut perih namun sekaligus gatal, terus-menerus memuntahkan sisa cairan kenikmatan yang menetes perlahan, membasahi pahanya yang gemetar hebat.Jangsam berdiri tegak di belakangnya, menatap punggung mulus istrinya yang basah oleh
Read more