Akhirnya setelah berpikir keras, Karin pergi ke ruangan praktek dr. Arlan. Mereka harus visit pasien dan jadwalnya pagi ini bersama dengan dr. Arlan.“Loh itu siapa Rin?” tanya Silvi saat menunjuk dr. Diego di depan ruangan dr. Arlan, mereka berdua sedang bicara. “Ya ampun aku mau kabur Sil, aku gak bisa hidup seperti ini. Apa aku berhenti saja jadi Koas? Kayaknya aku memang gak cocok jadi dokter, aku suntik takut, aku pegang pasien juga takut, pasien meninggal di depanku aku nangis, pasien yang gagal jantung, aku juga ikut jantungan. Menurutmu gimana?” “Jangan Rin, dunia ini indah, banyak kok cowok ganteng. Belum juga nikah, sabar dulu kalau mau mati.”Enak sekali memang mulut Silvi bicara tapi ia sudah gemetar. “Ayo, buruan! Tetap harus kamu hadapi loh, kalau gak hari ini, kamu harus hadapi besok atau besoknya lagi. Ketemu juga nanti.” Silvi menarik tangan Karin. Meskipun tidak mau, Karin tetap saja ikut. Wajah Karin memelas dan Karin serahkan semuanya pada Tuhan. Terserahlah ia
Read more