Share

Bab 154 Janji Karin

Penulis: Madamme Yellow
last update Tanggal publikasi: 2026-07-29 15:07:21

Subuh-subuh Karin sudah pulang dari hotel, meskipun semalam ia dan Arlan bertengkar hebat, pada akhirnya Arlan yang mengalah.

“Mau ke mana? Ini masih sangat pagi Sayang?” tanya Arlan saat melihat Karin sudah siap. Hari ini Karin mulai masuk dan Dimas akan menjemputnya, Karin tidak mau sampai membuat Dimas menunggu lama di rumah karena tidak menemukannya. Dimas pasti curiga kalau Karin tidak pulang. Padahal semalam Dimas sendiri yang memastikan Karin sampai di rumah dengan selamat.

“Gak enak k
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
fadlinah atlis
AQ suka ceritanya semakin seru semangat nulisnya....
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 687 Mau Disuntik Juga?

    “Hari ini pasti capek banget,” ucap Karin melihat betapa banyak pekerjaan yang harus ia lakukan.Pagi itu di Puskesmas, suasana tampak sibuk. Karin dan Silvi sedang merapikan peralatan medis ke dalam tas jinjing.Hari ini mereka menjadwalkan pemeriksaan kesehatan rutin untuk anak-anak di salah satu Sekolah Dasar setempat.Sejak tadi bersiap, Karin memperhatikan ada yang berbeda dari sahabatnya. Silvi terus saja menyenandungkan lagu dengan binar mata yang cerah.“Kamu kok senyum-senyum aja dari tadi? Kayak mau ketemu gebetan aja,” tebak Karin sambil memasukkan botol alkohol ke dalam kotak.Silvi terkekeh renyah.Sahabatnya itu memang selalu tahu apa yang sedang bergejolak di isi hatinya.Hubungan Silvi dengan Aldy kini sudah berubah. Sejak istri sah Aldy tahu perselingkuhan mereka, Aldy hanya bisa datang menemuinya seminggu sekali.Kondisi ini justru memberi Silvi napas baru. Ia merasa bebas untuk berkenalan dengan pria manapun sekarang, asalkan Aldy tidak mengetahuinya.Ditambah lagi,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 686 Bisa Cek Area Intimku

    “Apa yang membuatmu datang ke kantorku?” tanya Arlan langsung. Suaranya terdengar dingin dan penuh selidik.Arlan tahu pasti, Moreno punya tujuan tersendiri di balik manuver gilanya ini. Pria itu tidak akan membuang-buang uang jutaan dolar hanya untuk investasi biasa.Moreno hanya tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai.“Apa aku tidak boleh datang ke sini? Bukankah kau lihat sendiri aku punya lima belas persen saham? Sudah tentu aku punya hak atas satu ruangan di rumah sakit ini, bukan?”Arlan mengepalkan tangan di bawah meja. Apa yang Moreno katakan itu memang benar.Secara hukum korporasi, dengan kepemilikan saham sebesar itu, ia berhak mendapatkan fasilitas ruangan khusus.Tapi, untuk apa semua itu jika Moreno sendiri tidak bekerja sebagai praktisi medis atau staf manajemen di sini?“Aku hanya ingin tahu bagaimana rumah sakit ini berjalan,” tambah Moreno, melirik berkas di depannya dengan tatapan meremehkan.Arlan menatap Moreno dengan pandangan sinis

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 685 Terpaksa!

    Setelah menyemprotkan parfum baru ke seluruh tubuhnya, Arlan merasa sangat percaya diri. Ia yakin wewangian premium yang ramah ibu hamil ini tidak akan membuat Karin mual lagi.“Pasti setelah ini kamu peluk dan cium aku.”Malam itu, dengan langkah tegap dan dada membusung, Arlan mulai beraksi. Ia sengaja berjalan petantang-petenteng mondar-mandir di lorong depan kamar Karin.Kebetulan, pintu kamar istrinya sedang terbuka lebar. Arlan sengaja memperlambat langkahnya, berharap Karin melihat ketampanannya dan langsung berlari memeluknya karena rindu.Namun, yang terjadi justru di luar ekspektasi.Begitu aroma parfum itu tertiup angin dan masuk ke kamarnya, wajah Karin langsung memucat karena takut.Rasa mual yang teramat sangat mendadak menyengat ulu hatinya. Karin tidak sanggup menahan gejolak di perutnya.Tanpa sempat menyapa suaminya, ia langsung berbalik dan lari terbirit-birit menuju wastafel di dalam kamar.Huekk!Mendengar suara itu, Arlan tertegun di ambang pintu. Karena Karin ta

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 684 Ada Yang Lebih Eksklusif?

    Malam ini, sekat yang memisahkan mereka bukan lagi sekadar jarak satu meter di atas kasur, melainkan dinding beton yang tebal.Setelah pulang dari rumah sakit, Arlan terpaksa mengalah dan pindah ke kamar tamu yang berada tepat di seberang kamar utama mereka.Dari balik pintu yang sengaja dibuka sedikit, Arlan hanya bisa menatap bayangan Karin yang sedang bersiap untuk tidur.“Sayang, aku kangen kamu,” bisik Arlan lirih dari ambang pintunya sendiri. Suaranya terdengar menyedihkan, menggantung di lorong sepi yang memisahkan kamar mereka.“Apa kita harus beda kamar seperti ini?”Karin berjalan mendekati pintunya, memandang Arlan dari kejauhan dengan tatapan bersalah.Hatinya perih melihat suaminya seperti anak ayam yang kehilangan induk. Ia juga tersiksa.Namun, setiap kali Arlan melangkah mendekat ke kamarnya, indra penciuman Karin langsung bereaksi.Rasa mual itu langsung naik ke dada, siap memaksanya muntah hebat hingga lemas.“Sabar ya, Sayang. Aku juga kangen banget sama kamu,” sahu

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 683 Calon Baru

    Malam semakin larut di rumah sakit, dan giliran Silvi yang duduk di kursi samping ranjang untuk menjaga Karin.Suasana kamar rawat inap itu sudah jauh lebih tenang setelah Karin mendapatkan obat pereda mual dari dokter jaga.Silvi melirik ke arah pintu kaca kecil yang tertutup rapat, lalu menatap Karin yang sedang bersandar pada bantal.“Rin, asli kasihan banget suamimu di luar,” ucap Silvi dengan nada iba namun setengah menggoda.“Wajah Dokter Arlan sedih banget, kelihatan merana karena tidak bisa masuk ke dalam sini. Kamu ini sebenarnya cuma bercanda atau serius sih, bisa muntah-muntah hebat begitu kalau ada dia?”Karin menghembus napas berat, wajahnya yang pucat tampak sangat pasrah.“Mana mungkin aku bercanda, Silvi. Isi perutku rasanya mau keluar semua setiap kali mencium bau parfumnya, bau tubuhnya atau bahkan cuma melihat wajah Arlan sedikit saja dari pintu. Aku langsung pusing dan mual gak karuan.”Karin membelai perutnya yang masih rata dengan tatapan bingung sekaligus heran.

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 682 Pesan Sensual

    “Sayang, aku kangen. Kapan kamu datang ke apartemenku? Kamu memangnya tidak mau aku puasin lagi?”Malam itu di rumah mereka, ketenangan yang baru saja Dimas dan Laura rasakan seketika pecah.Ponsel Dimas yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar nyaring. Sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar yang menyala terang.Pesan yang sangat sensual itu dikirim oleh nomor asing yang tidak dikenal.Kebetulan, Laura yang sedang berdiri di dekat meja sempat melihat kalimat terlarang tersebut secara jelas dari layar ponsel suaminya.Detik itu juga, suasana di dalam kamar langsung mendingin“Siapa wanita ini, Sayang?!” tanya Laura, suaranya bergetar menahan cemburu dan rasa sakit.Dimas yang baru menyadari situasi itu langsung menyambar ponselnya dengan geram.“Aku gak tau, Sayang. Sumpah, aku gak kenal!”Ting.Belum sempat Dimas menjelaskan lebih jauh, nomor asing itu kembali mengirimkan beberapa file foto. Begitu dibuka, foto-foto masa lalu terpampang nyata, menampilkan sosok Dimas ya

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status