Share

Bab 154 Janji Karin

last update publish date: 2026-07-29 15:07:21

Subuh-subuh Karin sudah pulang dari hotel, meskipun semalam ia dan Arlan bertengkar hebat, pada akhirnya Arlan yang mengalah.

“Mau ke mana? Ini masih sangat pagi Sayang?” tanya Arlan saat melihat Karin sudah siap. Hari ini Karin mulai masuk dan Dimas akan menjemputnya, Karin tidak mau sampai membuat Dimas menunggu lama di rumah karena tidak menemukannya. Dimas pasti curiga kalau Karin tidak pulang. Padahal semalam Dimas sendiri yang memastikan Karin sampai di rumah dengan selamat.

“Gak enak k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
fadlinah atlis
AQ suka ceritanya semakin seru semangat nulisnya....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 255 Apa Maksudnya?

    Ceklek! “Sil, udah sehat?” tanya Karin saat membuka pintu kamar tamu Kakeknya. Silvi duduk di sofa sambil menikmati jus yang dibuat untuknya sedangkan dr. Erland sudah tidak ada lagi di kamar. “Sudah, panasku udah turun, tadi dr. Erland suntik aku di bokong,” jawab Silvi malas. Karena suntik inilah pria itu jadi bergairah dan menunggu pasiennya sadar. “Pulang, aku malas di sini!” Karin menarik tangan Silvi dan Silvi ikut saja, ia sudah seperti sapi saja, padahal Silvi baru saja sembuh. “Aku kesel banget Sil, kamu gak lihat wajah dr. Renata tadi. Ya ampun, tau gak? Ternyata dia yang nelpon satu persatu dokter di rumah sakit untuk datang malam ini, seneng banget dia mendapatkan dr. Arlan,” ucap Karin mengoceh tidak jelas sampai ke parkiran mobil. Karin sepertinya saja tidak senang dengan dr. Arlan padahal Silvi tahu kalau cinta Karin dengan dr. Arlan sudah begitu dalam, Silvi kasihan karena mereka tidak pantas bersa

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 254 Pertemuan Singkat Di Ranjang

    “Hai,” bisik Erland di telinga Silvi, sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Silvi sombong sekali. Padahal mereka pernah sangat panas saat bersama. “dr. Erland?” Silvi baru saja bangun, ia baru disuntik oleh dr. Erland supaya panasnya turun dan Erland tidak meninggalkan Silvi sama sekali. Ia diam sambil menunggu Silvi bangun. “Apa kabarnya Sayang?” tanya Erland sambil mengusap pipi Silvi. Ya ampun, Silvi sudah lupa tidur dengan dr. Erland. Padahal Erland mengaku pria yang setia sejak kepergian istrinya tapi ternyata pernah bercinta dengan Silvi. “Kok bisa di sini? Karin mana?” tanya Silvi panik. Ia tidak mau lagi punya hubungan gelap dengan para dokter, Silvi sudah trauma, ia ingin punya hubungan dengan pria biasa saja atau pria kaya yang kerjanya bukan seorang dokter. “Di depan,” jawab Erland mendekati Silvi dan duduk di bibir ranjang. “Aku mau keluar!” Erland menghalangi Silvi untuk keluar karena ia belum puas bicara dengan Silvi. “Nanti dulu dong Sayang, kita sudah lama t

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 253 Pesta Kita Berdua Saja

    Untungnya tidak perlu menunggu waktu lama, dr. Erland juga diundang malam ini dan ia ada di rumah Kakek Billy saat Karin menghubunginya, Karin tidak bertemu saat di Taman belakang tadi. “Makasih dok, kami di ruang tamu,” ucap Karin setelah menghubungi dr. Erland. Silvi sudah memejamkan matanya, Karin juga tidak tahu kenapa sahabatnya tiba-tiba pucat dan jadi pendiam. Apa yang terjadi? Tapi, Silvi juga belum mau cerita. Silvi malah memilih tidur daripada bicara dengan Karin.Tok! Tok! Karin membuka pintu kamarnya dan ada dr. Erland juga Arlan, untuk apa pria mesum yang tidak bertanggung jawab ini ikut masuk ke kamar ini, bukannya di luar orang sedang memberikan selamat dan memuji prestasinya. “Mana pasiennya?” tanya Erland saat melirik wanita cantik yang tertidur di ranjang. “Itu dok, dia sahabatku sepertinya demam, tadi belum. Mungkin kecapekan,” jawab Karin mengantar Erland untuk mendekat sedangkan Arlan sengaja berdiri di belakangnya dan tangannya yang kurang ajar itu, parkir

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 252 Rahasia Malam Pertama

    “Makasih ya dokter sudah datang ke pesta perayaan kami,” ucap Renata saat menyambut dokter senior yang baru saja datang. “Oh iya dr. Renata, sama-sama. Makasih juga sudah ngundang,” jawabnya. Karin tahu siapa bilang kerok dari semua ini. Renata! Wanita itu yang ingin diakui makanya mengundang semua dokter.“Selamat juga atas acara pertunangannya.” Karin dan Silvi masuk, ia melewati Renata yang sibuk sekali menyambut tamu, Arlan juga sedang sibuk bicara dengan temannya. Tidak ada yang menyadari kehadiran Karin. Sedangkan Silvi, Karin tidak tahu menghilang kemana. “Dia ini kemana sih? Gak ngomong kalau mau ke toilet,” gerutu Karin. Ternyata Silvi memang mencari toilet di rumah mewah ini, malah ketemu Papi Karin yang sedang bertelepon di dekat sana. Papi Rion menutup teleponnya saat melihat ada Silvi, teman Karin yang cantik. “Halo Sayang, kamu juga diundang untuk datang?” tanya Rion sambil menatap lembut wajah Silvi. Sumpah! Setiap bertemu dengan Papi Rion, jantung Silvi tida

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 251 Rasa Penasaran Karin

    “Aku ngerasa kalau aku masih di rumah sakit ini Sil, aku sama dr. Arlan gak akan pernah berpisah,” ucap Karin saat mereka pulang dari rumah sakit. “Kenapa? Tadi ketemuan lagi di ruangannya?” Karin tidak menutupi itu dari Silvi, ia mengangguk pasrah dan Silvi paham kalau sudah di ruangan Arlan, sudah pasti mereka berdua bercinta.“Jadi, kamu mau gimana?” tanya Silvi. “Aku mau cepat lulus stase ini, aku gak sanggup Sil, gak mungkin aku bersama dia, aku benci sama dia sejak dia pilih Renata jadi calon istrinya.” “Ya, gak mungkin juga pilih kamu Rin, bisa jadi Kakek kamu langsung mati saat itu,” jawab Silvi sambil menggeleng. Silvi tidak mengerti apa yang Karin pikirkan, padahal sudah tahu kalau cinta mereka itu salah tapi malah merasa seperti hubungan biasa antara pria dewasa dan wanita dewasa. “Terus tadi kalian ngapain?” tanya Silvi. Karin menyentuh dadanya yang mulai kencang, sejak ia mencoba minum obat untuk pelancar ASI dan ditambah dia juga tetapi dengan Arlan, rasanya dadanya

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 250 Program ASI Untuk Karin

    “Sayang, kau serius ingin mengeluarkan ASI?” bisik Arlan dengan nakal. Kedua jarinya sibuk menekan ke area intim Karin dengan alasan ini adalah pembelajaran. Sialan! Arlan selalu punya cara untuk membuat Karin tunduk dan patuh meskipun Karin sedang bersama dengan seorang pria. “Apa maksudmu?” tanya Karin dengan wajahnya yang merah. Kedua jari Arlan mengisi tubuhnya dan membuat Karin bergairah. “Aku pernah mengambil pelatihan khusus laktasi di luar negeri tapi aku tidak mencantumkan gelarnya, kalau kau mau, kita bisa mulai terapi,” bisik Arlan dengan suaranya yang menggoda. “Ahhhh eummmph dokter, stopppp!” Karin tidak sanggup dibuat menderita seperti ini oleh Arlan. “Kau ingin aku berhenti atau mengisi tubuhmu, Sayang?” tanya Arlan sambil menarik kedua tangannya yang basah karena pelumas Karin. “Aku ingin keluar, kau tidak bisa melarangku.” “Kalau kau keluar, aku akan pastikan kau tidak akan lulus Karin,” jawab Arlan tegas. “Kau mengancamku?” “Ya, duduk!” Arlan meminta Karin

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status