Arlan mengemudikan mobilnya sambil menggosok bibirnya dengan telunjuk, ia tidak pernah ada rencana bertemu lagi dengan Renata tapi sikap Karin kepadanya memaksa Arlan untuk melakukan semua itu. “Apa dia tidak pernah merasakan cinta sama sekali untukku?” tanya Arlan dalam hati, mereka selalu bergairah saat bercumbu, berkeringat saat di atas ranjang dan saling menikmati hasrat itu. Tapi, Karin lebih memilih pria lain daripada bangga dengan dirinya. Ya, tentu. Arlan Pamannya, mereka tidak layak, seharusnya Arlan sadar itu tapi bagaimana kalau cinta mereka nyata. Apa tidak boleh ia mencintai Karin? “Hemmm.” Arlan menarik napas berat. Kepalanya pusing, memikirkan Karin bersama pria lain, menggodanya, ia berciuman dengan pria itu dan ….Mungkinkah? Jangan-jangan Karin juga bercinta. “Tidak mungkin,” ucap Arlan sambil menggeleng, ia tahu kalau Karin tidak seberani itu, perawan Karin hilang di tangannya, ia bukan wanita yang ahli saat bercinta. Karin bahkan baru saja mulai menikmati sa
Read more