Setelah menjenguk Kakeknya, Karin pulang, tidak pamit lagi dengan keluarga, langsung keluar, ia juga tidak mau melihat wajah Arlan lagi. Pria itu pendusta dan sama saja seperti pria lainnya. Brengsek! Karin tidak akan lagi mau tergoda atau mengemis cinta Arlan. Ya, baguslah Arlan mendapatkan dr. Renata bersama dengan susu gantung ya yang berisi itu.Oh, ya. Pantas ingin cepat menikah, mungkin supaya susu dr. Renata yang tidak dihisap anaknya lagi itu, tidak basi dan bisa dinikmatinya sendiri. “Kamu tunggu di mobil, aku antar pulang,” ucap Arlan pada Renata. “Hemm.” Sementara Arlan melirik kemana Karin dan Silvi pergi. Karin duduk di koridor dan Silvi mengambil mobilnya di parkiran.“Aku mau bicara empat mata,” ucap Arlan. Karin menunduk dan tersenyum getir. Oh, sudah membaca pesannya pasti. Sekarang Arlan sudah ada waktu, tidak sibuk seperti tadi. “Gak ada dok, aku gak mau ngomong apapun dan mulai sekarang, kita punya batasan.” Arlan tahu ia salah, serba salah. Arlan bingung
Leer más