“Belum siap?” “Hemm, makanya semalam aku ciuman aja dulu. Supaya lebih akrab, jadi kalau mau gituan gak canggung lagi.” “Ohhh.” Karin mengangguk, ia menanggapi dengan santai karena ia juga begitu. Kalau ia masih suci pasti Karin akan ngomel tidak jelas. Tidak boleh seperti ini, tidak boleh seperti itu.“Rin, ponsel kamu bunyi, siapa yang telepon, penting mungkin. Siapa tahu dari rumah sakit?” Benar juga, jangan-jangan Arlan mau mengabari ia kondisi Kakek Billy yang tadi kritis. “dr. Arlan yang telepon Sil, aku lagi marah dengan dia, aku juga malas angkat karena gak ada lagi yang bisa kami obrolin, ia sudah pilih dr. Renata yang bisa susuin dia, aku gak ada,” jawab Karin dengan sedih. “Rin, kalau aja dr. Arlan itu bukan Om kamu, aku gak mungkin loh gini, kita pakai semua cara untuk membuat ia kembali lagi sama kamu. Tapi, dia Om kamu Karin, lupakan saja!” Kata-kata itu lagi, seperti kata pamungkas untuk membuat ia jauh dengan Arlan. Apa memang seharusnya mereka berpisah? “Sil,
Magbasa pa