เข้าสู่ระบบSetelah menjenguk Kakeknya, Karin pulang, tidak pamit lagi dengan keluarga, langsung keluar, ia juga tidak mau melihat wajah Arlan lagi. Pria itu pendusta dan sama saja seperti pria lainnya. Brengsek! Karin tidak akan lagi mau tergoda atau mengemis cinta Arlan. Ya, baguslah Arlan mendapatkan dr. Renata bersama dengan susu gantung ya yang berisi itu.Oh, ya. Pantas ingin cepat menikah, mungkin supaya susu dr. Renata yang tidak dihisap anaknya lagi itu, tidak basi dan bisa dinikmatinya sendiri. “Kamu tunggu di mobil, aku antar pulang,” ucap Arlan pada Renata. “Hemm.” Sementara Arlan melirik kemana Karin dan Silvi pergi. Karin duduk di koridor dan Silvi mengambil mobilnya di parkiran.“Aku mau bicara empat mata,” ucap Arlan. Karin menunduk dan tersenyum getir. Oh, sudah membaca pesannya pasti. Sekarang Arlan sudah ada waktu, tidak sibuk seperti tadi. “Gak ada dok, aku gak mau ngomong apapun dan mulai sekarang, kita punya batasan.” Arlan tahu ia salah, serba salah. Arlan bingung
Pengacara dan notaris mendekat ke Kakek Billy karena ada yang mau Kakek katakan. “Masalah kemarin yang saya katakan, itu apa akan jadi masalah,” ucap Kakek Billy dengan napasnya yang ngos-ngosan. Menahan jantungnya yang sakit sekali.“Menurut hukum perdata, ini sah Pak Billy, mau tetap diteruskan pembagiannya seperti itu.” Kakek Billy mengangguk, ia ingin pembagian warisan untuk Arlan lebih banyak. “Papa mau ngomong,” ucap Billy setelah Renata keluar dan hanya ada anak-anaknya saja di dalam ruangan. “Kalau terjadi apapun dengan Papa, kalian jangan bertengkar soal warisan. Papa sudah membaginya dengan sangat adil.” Billy menarik napasnya berat. Matanya berkaca-kaca saat melihat Arlan. Anak kesayangannya tapi tega sekali melakukan semua itu pada Karin. “Arlan, sini!” Arlan mendekati telinganya ke mulut Papanya. Arlan siap mendengar apapun. “Sudah saatnya Papa ngomong sama kamu, Papa dan Mama sayang sekali dengan kamu, dari kamu lahir.” Kakek Billy menangis dan merasakan sesak di
“Sil, temani aku ke rumah sakit,” ucap Karin. Karin menghubungi Silvi, hanya Silvi tempat ia cerita sekarang dan Karin butuh sekali Silvi dengannya. “Kenapa Rin?”“Kakek masuk rumah sakit, jantungnya kumat.” Silvi tidak banyak bertanya lagi, ia mengerti kalau Karin sedang sedih saat ini. “Kirim lokasi kamu sekarang, Rin. Aku ke sana!” “Hemmm,” jawab Karin murung. Karin mengirimkan lokasinya, ia sebentar lagi sampai tapi tidak kuat, tubuhnya lemas. Ia tidak sanggup melihat dr. Arlan dan dr. Renata menikah. Jujur, Karin ingin mati saja. Air matanya terus menetes. Padahal ia yang selingkuh selama ini tapi yang menikah malah Arlan. Mungkin ini hukuman untuknya karena tidak pernah memikirkan perasaan Arlan, sekarang Arlan pergi, mereka mungkin tidak akan pernah lagi bersama. Selama bersama dengan Arlan, mereka tertawa, mereka bercanda, mereka pasangan yang lucu tapi tidak pernah sekalipun Karin memikirkan hari ini akan tiba. Ya, ia pernah berpikir tapi saat itu tidak tahu bagaimana
Kejadiannya begitu cepat, Karin saja tidak tahu kalau Kakeknya dibawa ke rumah sakit terdekat. Arlan panik malam itu, ia menghubungi semua keluarga karena kondisi Kakek Billy kritis, darah tingginya kambuh karena tahu yang Arlan lakukan dengan Karin. “Kakek Billy tadi bangun sebentar, ia minta dipanggilkan pengacara dan notaris,” ucap dr. Erland. Dokter pribadi Kediaman Kakek Billy. Semua keluarga sudah berkumpul karena takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. “Arlan sini!” Kakek Billy berbisik lembut tapi Arlan mendengarnya. Semua ini karenanya, tapi Arlan akan melakukan apapun karena memang ini kesalahannya. “Menikahlah sekarang, di depanku!” Jantung Arlan berdegup kencang. Apa Papanya meminta Arlan untuk menikah dengan Karin? “Te-terserah kamu. Renata atau Winda,” lanjut Kakek Billy dengan kondisinya yang begitu lemah, itu saja hanya di dengar oleh Arlan dan Rion saja. Arlan tersenyum getir, matanya merah karena menahan tangis. Tentu saja tidak mungkin ia direstui dengan
“Sudah selesai mengantar Renata?” tanya Karin sambil melilitkan tangannya ke leher Arlan. “Sudah, aku langsung pulang, dia memintaku untuk mampir. Menikmati susu gantung hangat,” bisik nakal Arlan, Arlan ingin melihat reaksi Karin saat ia mengatakan itu dan Karin langsung marah. “Aku benci kamu, dok!” Karin menjauhkan pelukan Arlan dan memukul dada Arlan dengan kuat.“Kenapa?” tanya Arlan memeluk Karin dari belakang. Seperti ini saja, hubungan mereka tidak perlu diketahui banyak orang tapi mereka berdua menikmatinya. “Kamu serius ingin bertunangan dengan dr. Renata?” tanya Karin dengan wajah sedihnya. Karin tidak sanggup melihatnya. “Mungkin, aku suka minum susu gantung,” jawab Arlan sambil tertawa.“Gak lucu ihhh,” jawab Karin malas. Ia sedang serius tapi Arlan selalu mengajaknya bercanda. “Kamu gak ada, Sayang. Makanya aku cari orang yang memilikinya. Sekarang lagi trend,” bisik Arlan sambil menggelitik pinggang Karin. “Apaan sih? Dasar gila,” jawab Karin dengan senyumnya. Ka
Setelah Arlan mengantar Renata, Karin tidur dikamarnya sendiri. Ia takut Kakek Billy masuk lagi ke kamar Arlan dan melihat ia ada di sana. “Sudah sampai rumah?” tanya Karin saat Dimas menghubunginya. Sepertinya Dimas ingin mencari tahu, ada Arlan atau tidak di rumah Kakek Billy. “Baru sampai dan langsung kangen kamu lagi,” jawab Dimas. Karin hanya tersenyum lembut. Seharusnya dulu, Karin tidak perlu menerima Dimas menjadi kekasihnya, sekarang ia benar-benar sulit lepas dari Dimas. “Hemm, dokter mau mengajukan diri jadi Direktur Rumah Sakit?” tanya Karin ragu-ragu. Mereka belum membicarakan ini berdua saja, Karin hanya samar-samar mendapatkan berita tentang masalah ini. “Ya.” Dimas menunggu pertanyaan Karin selanjutnya. Ia tidak akan mundur sedikitpun, ia ingin menghancurkan Arlan. “Kenapa dr. Arlan tidak bisa ikut bersaing?” Dimas tahu kalau Karin pasti akan menanyakan ini. “Tanyakan saja dengannya. Kenapa dia mengundurkan diri,” jawab Dimas dengan seringainya.
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a







