“Kariiiiiiin dasar begok,” ucapnya sambil menjambak rambutnya sendiri. Bodoh memang, tidak bisa dirayu sedikit oleh Arlan, langsung luluh lantah, padahal Karin sangat marah, benci, emosi, dan kesal dengan Arlan. Ia malah biarlah Arlan mengisi tubuhnya, mengaduknya dengan cepat dan menumpahkan cairan kental itu ke rahimnya, rasanya masih ada, membekas dan nikmat. Keringatnya mengucur dengan deras dan Karin bergairah. Ahhhh, sialan!Karin baru saja sampai rumah, tadinya ingin mencari apartemen yang dekat dengan rumah sakit dengan Silvi, ia malah meninggalkan Silvi sendirian di Restoran, sekarang ia kelaparan. Tidak ada yang masak di rumah, terpaksa Karin keluar setelah mandi nanti. “Eumph, enak banget,” gumam Karin merasakan area intimnya yang kembali basah. Bohong kalau ia marah, ia merindukan Arlan, rindu sekali sampai ingin menangis. Tapi, Arlan mengkhianati cinta mereka. Arlan yang lebih dulu meninggalkannya, kenyataannya bukan Karin yang takut tapi Arlan. Arlan melepaskan pak
Read more