LOGINDiego, seorang dokter spesialis bedah onkologi yang biasanya begitu berjarak dan profesional, kini menangis tersedu-sedu di koridor rumah sakit, memeluk anak-anak dari pasien yang gagal ia selamatkan.Di atas pundak anak-anak itu, Diego menatap koridor yang kosong. Ia tahu, secara medis ia bisa membela diri di depan komite etik.Namun melihat tiga pasang mata piatu ini, Diego tahu ia harus membawa luka ini seumur hidupnya.Rasa gagal ini telah terpatri permanen di dalam jiwanya.Pagi perlahan merayap naik, menggantikan malam kelam yang dipenuhi duka.Ponsel Diego yang tergeletak di atas meja kerjanya bergetar berulang kali. Layarnya berkedip menampilkan nama Silvi.Namun, Diego hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Ia tidak memiliki energi, bahkan hanya untuk sekedar menggeser layar dan mengucap kata halo.Silvi, yang hafal betul tabiat Diego, langsung tahu ada sesuatu yang sangat tidak beres.Diego tidak pernah mengabaikan panggilannya tanpa alasan yang sangat krusial.Tanpa buang
“Dok ... kita sudah melakukan semuanya sesuai prosedur. Ligasi sudah maksimal, transfusi sudah masuk belasan kantong. Jaringan parametriumnya memang sudah terlalu rapuh akibat infiltrasi tumor,” ucap Rian, mencoba memberikan rasionalisasi yang biasa mereka gunakan untuk menghibur diri.Diego tidak menyentuh botol itu. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan mata merah yang berkaca-kaca.“Sesuai prosedur, Rian? Tapi ibu itu meninggal,” sahut Diego, suaranya parau, nyaris berbisik namun penuh penekanan.“Tiga anak, Rian. Yang paling kecil bahkan mungkin belum paham apa itu kanker. Kemarin suaminya meremas tangan saya, menitipkan seluruh hidup keluarganya di pisau bedah saya. Saya bilang saya akan melakukan yang terbaik.”Dadanya bergemuruh hebat.“Dokter Diego sudah melakukan yang terbaik. Ini komplikasi fasa lanjut, Dok. Di atas meja operasi, semua keputusan Dokter sudah tepat,” potong dr. Sarah, spesialis anestesi, yang baru saja masuk setelah merapikan dokumen kematian pasien.D
Klem terakhir dilepaskan.“Akhirnya, selesai juga.”Diego mengembuskan napas panjang yang terasa begitu lega di balik masker bedahnya.Bidang operasi di dalam rongga panggul Ibu Rahayu tampak bersih dan kering, tidak ada rembesan darah aktif.Operasi Wertheim yang melelahkan selama hampir lima jam itu akhirnya selesai.“Kasa dan instrumen lengkap, Dok,” lapor perawat Maya setelah menghitung ulang alat untuk memastikan tidak ada yang tertinggal di dalam tubuh pasien.Ujung pisau bedah itu akhirnya menyelesaikan tugasnya setelah lima jam yang menegangkan.Diego berhasil memisahkan jaringan parametrium yang terinvasi, mengangkat rahim, dan membersihkan kelenjar getah bening panggul dengan akurasi yang luar biasa.Ketika operasi dinyatakan selesai, helaan napas lega terdengar di ruang operasi.“Kamu sudah di rumah sakit, Beb?” Diego menghubungi Silvi setelah selesai.“Hemm, udah. Gimana operasinya? Lancar?” tanya Silvi. “Ya, begitulah. Masih harus dilihat lagi, tapi saat operasi tidak ad
“Sialan! Aku sudah terlambat.”Lampu lorong rumah sakit berpendar pucat, memantulkan bayangan dua pria yang berdiri di depan ruang sterilisasi sebelum operasi besar dimulai.Jam dinding digital di atas pintu menunjukkan pukul 14.10 WIB.Diego terlambat tepat sepuluh menit.Napasnya masih agak memburu. Bukan karena ia berlari menyusuri koridor, melainkan karena sisa keletihan yang menyenangkan setelah percintaan intens siang ini bersama Silvi di sebuah hotel dekat rumah sakit.Diego berusaha mengumpulkan kembali energinya yang sempat terkuras habis.Namun, penampilannya tidak bisa berbohong. Jas dokternya tersampir miring, kancing kemejanya berselisih lubang dan rambut yang biasanya klimis kini tampak acak-acakan.Arlan, bersandar di dinding sambil melipat tangan.Tatapannya tajam, menelisik penampilan Diego dari ujung kepala hingga ujung kaki. Meski begitu, ada kilat geli yang tertahan di sudut matanya.“Sepuluh menit, Diego,” Arlan mengetuk jam tangannya sendiri.Suaranya tertahan na
“Dia udah sampai duluan,” gumam Silvi sambil melihat jam di tangannya.Sepertinya Diego sudah tidak tahan bercinta dengan Silvi.Silvi melangkah terburu-buru menyusuri koridor hotel berkarpet tebal, mengabaikan detak jantungnya yang berkejaran liar.Tit!Begitu pintu kamar mewah di depan ujung koridor terbuka, sosok Diego langsung menyambutnya.“Aku udah nunggu lama, Beb.”Tidak menunggu waktu lama, Diego langsung meraup bibir Silvi sambil membuka pakaian Silvi hingga tandas, Silvi juga membuka kemeja hitam yang digunakan Diego.“Eumph, ahhhh sabar Sayang,” bisik Silvi dengan senyum nakalnya.Pertemuan yang penuh ketegangan itu memperlihatkan betapa kuatnya ikatan emosional di antara mereka, yang selama ini terhalang oleh kenyataan pahit.“Aku dari semalam memikirkanmu.” Suara Diego serak parau menahan gairah.Diego menatap Silvi dengan tatapan dalam, menggenggam tangannya erat seolah takut kehilangan wanita itu.“Aku juga masih kangen sama kamu, Sayang.” Diego menarik Silvi ke ranja
“Sayang!”Arlan bangkit dari kursi kerjanya, lalu berjalan mendekat dan menarik tangan Karin dengan lembut untuk mengajaknya duduk di sofa panjang yang ada di sudut ruangan.Pria itu berlutut di hadapan Karin, memandangi wajah lelah istrinya dengan tatapan yang mendadak berubah intens.Tatapan penuh kepemilikan yang selalu berhasil membuat Karin terpaku.Detik berikutnya, tanpa aba-aba, Arlan maju dan langsung meraup bibir Karin dengan rakus.“Eumph, apaan sih Sayang, nanti ada orang masuk.”Karin terkejut, namun ciuman menuntut itu segera mematikan seluruh protes di benaknya.“Bibir kamu lembut sih Sayang,” jawab Arlan disela-sela kecupannya. Tadinya, Arlan hanya berniat mengecap bibir ranum itu sebentar saja sebagai pelepas penat.Namun, sensasi manis dan kehangatan yang begitu nikmat dari Karin membuat Arlan kehilangan kendali.Pria itu memperdalam ciumannya, mengabaikan fakta bahwa mereka masih berada di lingkungan rumah sakit, terus melanjutkannya sampai ia merasa benar-benar pu
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







