Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk apartemen Rose, atmosfer dingin menyergap sebuah ruangan semi-gelap berbau mesiu dan rokok.Victor baru saja menurunkan ponsel dari telinganya. Begitu sambungan terputus, sisa kehangatan sebagai seorang kakak menguap tanpa bekas. Matanya kembali menajam, sedingin es, menatap lurus ke arah beberapa anak buahnya yang berdiri tegap.“Sudah bisa melacak keberadaan bosnya?” tanya Victor. Suaranya berat, menuntut kepatuhan mutlak.“Informasinya ini, Komandan,” sahut salah satu anak buahnya, maju selangkah lalu menyodorkan map berisi berkas data diri hasil sadapan intelijen.Victor menyambar map tersebut. Matanya menelisik cepat, membaca setiap baris informasi rahasia yang tertera di sana.“Lian Moretti. Umurnya masih muda, tiga puluh dua tahun, tapi sudah bisa memimpin geng mafia sebesar ini,” gumam Victor pelan.Dia terdiam sesaat, menatap tajam dokumen di tangannya. Jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan ritme konstan yang mengintimidasi. S
Baca selengkapnya