“Ah, persetan. Nikmati saja yang di depan mata dulu. Barang bagus begini gak boleh kalau dianggurin, mubazir!” batin Julian.Sentuhan bibir Rose di ujung pusakanya benar-benar luar biasa, menghisap seluruh kewarasan Julian. Tapi karena tak mau muncrat duluan sebelum ronde dimulai, Julian mencengkeram lembut rambut Rose lalu menarik kepala wanita itu menjauh dari selangkangannya.Flop.Bunyi basah yang seksi itu terlepas ke udara. Rose seketika mendongak resah, menatap tidak rela dengan bibir yang sedikit terbuka karena permennya direbut secara paksa.“Kenapa dilepas?” protes Rose dengan suara parau yang sarat akan tuntutan.“Nanti muncrat duluan, Sayang. Kalau si Diky tumbang di awal, pemanasannya bisa lama lagi,” kilah Julian,Mata Rose langsung menyipit tajam. Dia tahu betul satpam pribadinya ini cuma beralasan untuk menggodanya.“Bohong! Kemarin saja kamu sanggup tiga ronde gak pakai jeda, nggak ada ceritanya si Diky loyo. Malah makin gagah dan keras, tuh!” tagih Rose, sama sekali
Read more