Melihat reaksi dingin Rose, Daniel langsung kelabakan, hampir saja menyenggol cangkir kopinya sendiri sampai isinya agak tumpah.“Eh, bukan begitu maksud aku, Sayang! Kamu ngomong apa sih? Sembarangan saja kalau mikir!” ucapnya panikSeparuh jiwa Daniel rasanya langsung terbang ke langit-langit rumah. Dengan gerakan kilat, dia menggeser kursi dan berpindah duduk tepat di samping Rose, lalu mencoba meraih jemari istrinya yang terasa kaku.“Hei, dengar aku dulu. Kok ngomongnya jadi horor begitu, sih?” bujuk Daniel, buru-buru menyetel suara selembut sutra dan semanis gulali. Matanya dikedip-kedipkan, menatap Rose.“Kamu itu wanita paling cantik, paling seksi yang pernah aku miliki. Gak ada yang kurang dari kamu, Rose. Aku cuma ... aku belakangan ini lagi stres banget mikirin proyek kantor yang numpuk sampai kepala rasanya mau pecah, makanya aku agak abai sama kamu!”Daniel mengusap-usap punggung tangan Rose, berusaha keras meyakinkan wanita muda di hadapannya itu. Padahal dalam hatinya,
Baca selengkapnya