"Nih Mas, ngopi dulu," ucap Anggun, suaranya terdengar lebih rendah dan sedikit serak. Anggun meletakkan cangkir kopi itu dengan denting pelan di atas meja kayu, lalu tanpa ragu, ia menghempaskan tubuhnya duduk tepat di samping Dayat. Jarak mereka sangat dekat, hingga Dayat bisa merasakan hawa panas dari tubuh Anggun. "Eh, iya Mbak... makasih Mbak," jawab Dayat kaku. Ia berusaha menjaga pandangannya tetap lurus ke depan, meski aroma alkohol yang bercampur parfum dari napas Anggun kini terasa semakin pekat. Anggun kemudian memiringkan posisi tubuhnya menghadap Dayat. Salah satu tangannya menopang dagu di sandaran sofa, sementara mata sayunya menatap Dayat dengan lekat. "Mas tau nggak sih... aku tadi udah buru-buru, udah siapin semua, eh malah cuma sebentaran... bete banget aku," gerutu Anggun, nada bicaranya mulai melantur khas orang yang sedang di bawah pengaruh minuman. "I-iya Mbak, ta-tapi kan enak jadi pulang cepet," sahut Dayat seadanya, berusaha bersikap netral.
Zuletzt aktualisiert : 2026-04-18 Mehr lesen