ログインDayat dan Arum melangkah keluar dari kamar mandi. Keduanya sudah tampak lebih segar, walau sisa-sisa kelelahan dari permainan panas tadi masih tertinggal di gurat wajah mereka. Arum berjalan dengan handuk yang hanya dililitkan sebatas dada, sementara Dayat berjalan di sampingnya sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Namun, langkah mereka terhenti sejenak saat melihat ke arah dapur. Ternyata, Mbak Putri sudah tidak ada lagi di atas kasur. Janda montok itu rupanya sudah berhasil mengumpulkan tenaganya kembali. Dengan hanya mengenakan daster tipis yang longgar, Putri terlihat sedang sibuk mengaduk sesuatu di dalam cangkir, membelakangi mereka. Aroma harum biji kopi yang pekat langsung menguar memenuhi ruangan. "Eh, udah bangun kamu, Put? Kirain bakal pingsan sampai pagi," goda Arum sambil terkekeh pelan. Putri menoleh, melemparkan tatapan pura-pura sebal sambil memegang sendok kecil. "Sialan kamu, Rum. Mas Dayat tuh yang enggak pakai perasaan genjotnya. Tapi untung badanku
Melihat Mbak Putri yang sudah berada di atas tubuhnya, Dayat tidak mau lagi menjadi pihak yang pasif. Begitu milik mereka menyatu sempurna, gairah kelelakian Dayat benar-benar meledak. Dengan gerakan cepat dan tak terduga, Dayat memegang pinggang montok Putri, lalu membalikkan posisi tubuh mereka dengan satu hentakan kuat. Kini, Dayat berada di atas, menindih penuh tubuh Mbak Putri yang langsung memekik kaget sekaligus kegirangan. "Aahhh... Mas Dayat! Langsung kasar yaaa... hhh!" Tanpa memberikan jawaban, Dayat langsung mengerahkan seluruh tenaganya. Ia mulai menggenjot Mbak Putri dengan sangat kuat, cepat, dan liar. Setiap tusukan dalam yang diberikan Dayat membuat ranjang kayu di kamar itu mulai berdecit keras, beradu dengan suara kecapak basah yang semakin intens. "Aaaahhh! Mas... Mas Dayattt! Pelan-pelan, Mas... ughh, dalem banget... aaahh!" jerit Mbak Putri, matanya terpejam erat dengan kepala yang bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri. Kedua tangannya mencengkeram bahu Dayat
Keheningan kamar itu tidak bertahan lama. Pintu kembali terbuka perlahan, dan sosok Arum melangkah masuk dengan sangat santai. Namun kali ini, semua pakaiannya sudah ditanggalkan. Tubuh sintalnya yang polos tanpa busana tampak begitu menawan di bawah temaram lampu kamar, membuat pandangan Dayat lagi-lagi terkunci.Arum berjalan gemulai menghampiri ranjang, lalu merangkak naik mendekati Dayat. Ia sengaja menempelkan dada bidangnya ke tubuh Dayat yang masih berusaha mengatur napas, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu untuk membisikkan godaan nakal."Mas Dayat... udah siap kan? Sekarang giliran aku yang cobain punya Mas sampai puas ya," bisik Arum dengan nada yang sangat seksi, tangannya yang lentik perlahan mendorong dada Dayat hingga pria itu kembali berbaring telentang di atas kasur.Dayat hanya bisa pasrah, membiarkan Arum mengambil kendali. Dengan gerakan yang penuh percaya diri, Arum kemudian mengangkangi tubuh Dayat. Ia memosisikan dirinya di atas paha pria itu, lalu mer
Dayat masih duduk tegang di tengah kasur, memegangi bantal erat-erat untuk menutupi kejantanannya yang telanjang bulat. Kepalanya terus menoleh ke arah pintu dengan jantung yang berdegup kencang, bersiap untuk kemungkinan terburuk jika yang datang adalah Luki atau warga gang.Namun, ketakutannya buyar saat pintu kamar terbuka. Mbak Putri melangkah masuk kembali, tetapi ia tidak sendirian. Di belakangnya, mengekor seorang wanita lain yang penampilannya tak kalah memukau. Wanita itu memiliki perawakan yang sintal, wajah yang rupawan, dan tatapan mata yang sangat berani. Pakaiannya yang agak minim mempertegas lekuk tubuhnya yang seksi.Melihat ada orang asing masuk ke dalam kamar dalam kondisi dirinya yang polos, Dayat langsung tersentak kaget. Ia refleks memeluk bantal lebih erat, menekan benda itu kuat-kuat di atas pangkuannya demi menyembunyikan aset berharganya.Melihat kepanikan Dayat, Mbak Putri justru tertawa kecil dan berjalan santai mendekati ranjang. "Halah, enggak usah panik g
Dayat melangkah pelan, mendorong pintu kamar Mbak Putri yang memang tidak tertutup rapat. Begitu kakinya menapak di dalam kamar, aroma wangi bedak tabur dan kelembapan khas sehabis mandi langsung menyergap indra penciumannya.Mbak Putri yang saat itu sedang berdiri di dekat lemari pakaian langsung menoleh. Menyadari kehadiran Dayat yang menyelinap masuk, wanita itu sama sekali tidak terkejut. Sebaliknya, sebuah senyuman nakal dan penuh arti langsung terbit di bibirnya."Ih, Mas Dayat... udah enggak sabar banget ya?" tanya Mbak Putri dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar sangat manja di telinga Dayat.Dayat tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya melemparkan senyuman miring yang penuh percaya diri. Tatapan matanya seketika menggelap begitu melihat kain jarit yang tadi melilit tubuh Putri kini sudah tergeletak di lantai, menampilkan lekuk tubuh wanita itu yang polos tanpa sehelai benang pun.Tanpa membuang waktu lagi, Dayat melangkah lebar mendekat. Kedua tangan kekarn
"Eh, Luk!?" ucap Dayat terkejut setengah mati. Jantungnya berdisko, mendadak kepikiran kalau dia tidak mungkin jujur bilang mau ke rumah Mbak Putri. Kalau dia alasan mau benerin sesuatu, Luki pasti langsung curiga kenapa malam-malam begini dia datang tanpa membawa tas peralatan kerjanya.Luki menyipitkan matanya, memandang Dayat dari atas sampai bawah. "Ngapain lo jalan kaki malem-malem di gang rumah gue, Yat? Mana rapi bener lagi. Mobil lo mana?"Dayat cepat-cepat menguasai ekspresi wajahnya, mencoba tersenyum sealami mungkin. "Kagak... ini, gue lagi ada perlu sama orang sini, Luk. Kebetulan rumahnya udah enggak jauh lagi dari sini. Mobil sengaja gue parkir di Alfa depan, males gue bawa masuk gang, sempit."Luki manggut-manggut, menerima alasan itu tanpa curiga berlebih. "Oh, kirain ada apa. Tumben amat malam-malam.""Iya, urusan bentar doang kok," sahut Dayat cepat, buru-buru membalikkan keadaan sebelum Luki bertanya lebih detail. "Lah, lo sendiri mau kemana malam-malam gini bawa mo







