ARSITEKTulisan itu terukir di atas pintu ketujuh, bukan hasil dari goresan cat maupun tinta, melainkan seperti bekas luka yang dipahat langsung ke permukaan kayu berwarna hitam.Selama beberapa saat lamanya tidak ada seorang pun dari mereka yang merasa sanggup untuk bergerak. Bahkan ayah Sera yang baru muncul pun tampak enggan mendekati koridor itu. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, pria tua tersebut terlihat takut, atau lebih tepatnya, benar benar takut."Ayah...," suara Sera bergetar tak terbendung.Pria itu menoleh. Ternyata untuk kali ini, ia mengenali putrinya.Air mata langsung muncul berderai di mata Sera karena setelah bertahun tahun, pada akhirnya ada seseorang yang masih mengingat dirinya.Namun ternyata ekspresi pria tua itu justru membuat suasana semakin buruk, karena yang terlihat di wajahnya bukanlah suatu kebahagiaan, melainkan lebih terlihat seperti penyesalan."Sera...," bisiknya. "Kalian seharusnya nggak datang ke sini."Raka maju selangkah. "Siapa Arsitek
Read more