ホーム / Horor / Booking Terakhir / CHAPTER 32 : Permainan Ketujuh

共有

CHAPTER 32 : Permainan Ketujuh

作者: Newa Lim
last update 公開日: 2026-06-15 09:43:07

"JANGAN TEMUKAN RUANG BACA NOMOR TUJUH."

Pesan terakhir dari ayah Sera terus terngiang di kepala mereka tanpa jeda, namun masalahnya adalah ledakan tadi berasal tepat dari arah perpustakaan dan sekarang seluruh kota bisa melihat segenap langit malam dipenuhi oleh lembaran kertas yang bukan sekadar kertas biasa, melainkan ribuan bahkan jutaan halaman buku melayang seperti butiran salju.

Kemudian yang mengerikan adalah munculnya kenyataan pada saat setiap kali satu lembar menyentuh seseorang ma
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Booking Terakhir   Chapter 37 : Pria Di Balik Pintu Ketujuh

    "Kalau sudah selesai saling curiga..., masuklah kedalam! Aku sudah menunggu kalian sejak sebelum petualangan ini dimulai."Tidak ada teriakan maupun ancaman dalam suaranya yang sama sekali tidak menyeramkan walau datangnya dari balik kegelapan, namun justru itulah yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri, karena suara itu terdengar terlalu normal.Raka menatap lekat pintu ketujuh saat kegelapan di baliknya bergerak perlahan seperti kabut yang bernapas, tapi tidaklah menyerang ataupun mendekat. Dia seolah hanya menunggu sesuatu."Sebaiknya jangan masuk." Kata Dito tiba tiba membuat semua orang menoleh padanya. Anak itu tampak lebih pucat daripada sebelumnya. "Aku nggak tahu siapa dia!" Sambungnya lagi sambil menelan ludah. "Tapi aku tahu satu hal.""Apa?" Tanya Mira dengan suara agak tertahan.Dito menunjuk hotel yang terlihat samar di salah satu pintu lain, "Dia lebih tua dari semuanya."Lebih tua dari Lautan Hitam dan juga lebih tua dari kota yang hilang…Kalau pernyataan itu bena

  • Booking Terakhir   Chapter 36 : Arsitek yang Dihapus Dari Sejarah

    ARSITEKTulisan itu terukir di atas pintu ketujuh, bukan hasil dari goresan cat maupun tinta, melainkan seperti bekas luka yang dipahat langsung ke permukaan kayu berwarna hitam.Selama beberapa saat lamanya tidak ada seorang pun dari mereka yang merasa sanggup untuk bergerak. Bahkan ayah Sera yang baru muncul pun tampak enggan mendekati koridor itu. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, pria tua tersebut terlihat takut, atau lebih tepatnya, benar benar takut."Ayah...," suara Sera bergetar tak terbendung.Pria itu menoleh. Ternyata untuk kali ini, ia mengenali putrinya.Air mata langsung muncul berderai di mata Sera karena setelah bertahun tahun, pada akhirnya ada seseorang yang masih mengingat dirinya.Namun ternyata ekspresi pria tua itu justru membuat suasana semakin buruk, karena yang terlihat di wajahnya bukanlah suatu kebahagiaan, melainkan lebih terlihat seperti penyesalan."Sera...," bisiknya. "Kalian seharusnya nggak datang ke sini."Raka maju selangkah. "Siapa Arsitek

  • Booking Terakhir   Chapter 35 : Penghianat di Meja Makan

    "PINTUNYA TIDAK TERKUNCI DARI LUAR."Kalimat itu terpampang di belakang foto panti asuhan, membuat mereka semua terdiam tanpa bicara dan bergerak, hingga bahkan suara napas terasa terlalu keras di aula itu.Raka memandang foto tersebut sangat lama sambil merenungkan kalimat itu karena sudah jelas telah mengubah segalanya. Selama ini mereka percaya bahwa Lena terjebak dalam api dan seseorang sudah gagal menyelamatkannya. Mereka juga sudah terlanjur percaya jika kebakaran itu adalah sebuah tragedi yang mengenaskan.Tapi kalau pintu tidak dikunci dari luar, berarti seseorang di dalam kamar menguncinya sendiri. Atau..., seseorang ingin tetap berada di sana."Omong kosong." Kata Mira akhirnya memecah keheningan. Suaranya terdengar lebih keras daripada yang ia kira sebelumnya. "Foto bisa saja dipalsukan." Sambungnya lagi dengan nada sedikit emosi."Di sini?" Tanya Sera dingin penuh nada ragu. "Kita bahkan nggak tahu mana yang nyata dan mana yang bukan."Kemudian Naya mengambil foto itu lalu

  • Booking Terakhir   CHAPTER 34 : Versi yang Selamat Sendirian

    "Kalau malam itu aku yang mati..., Apa kamu akhirnya bakal ingat aku?" Pertanyaan dari Naya membuat seluruh ruangan terasa teramat menegangkan dan membuat bulu kuduk meremang.Namun sebelum Raka sempat menjawab, tiba tiba terdengar suara keras…BRAK!Pintu kelas terbuka sendiri dan sudah pasti bukan karena didorong ataupun dihancurkan, melainkan layaknya seseorang membuka pintu rumahnya sendiri. Ketika tampak sosok yang berdiri di ambang pintu, Raka spontan merasa panas dingin sekujur tubuh.Sosok itu adalah dirinya sendiri, tapi bukan dirinya yang sekarang, melainkan Raka yang berusia sekitar empat puluh tahunan dengan rambut mulai sedikit beruban. Wajahnya dipenuhi bekas luka dengan sepasang mata terlihat sangat lelah. Dijarinya tampak memakai sebentuk cincin nikah dan itu sangat mengganggu perasaannya.Kemudian pria itu menatapnya lumayan lama lalu tersenyum kecil, "Akhirnya."Ternyata suara mereka terdengar sama, bahkan persis sama. Namun terdengar putus asa seperti seseorang yang

  • Booking Terakhir   CHAPTER 33 : Kelas Orang yang Terlupakan

    "UNTUK KELUAR DARI RUANGAN INI, TEMUKAN SATU INGATAN YANG PALING INGIN KAMU LUPAKAN."KLIK. Pintu kelas terkunci. Raka hanya berdiri sendirian tanpa Naya, Mira, Dito serta Sera. Pandangannya menyapu seluruh isi di ruang kelas tua itu. Ada papan tulis hitam, meja kayu kusam dan jendela jendela besar yang memperlihatkan gelapnya langit malam di luar sana. Namun yang paling mengganggu dan mengusik perasaan adalah suasana ruangan itu sangatlah familiar karena Raka mengenalnya dengan teramat baik. "Ini...," Tangannya gemetar karena perasaan yang bercampur aduk tak karuan, "Ini kelas SMP gue." Batinnya sungguh terkejut bercampur rasa nostalgia. Semuanya terlihat sama persis. Meja serta papan pengumuman yang sama letaknya. Bekas coretan yang sama pun masih tampak jelas di tembok belakang seakan tak pernah dihapus selama ini, bahkan tulisan R+N pun masih tertera disalah satu sudut meja walau hampir terhapus.Raka langsung mematung kala melihatnya lagi sekarang, tulisan yang ditulis oleh di

  • Booking Terakhir   CHAPTER 32 : Permainan Ketujuh

    "JANGAN TEMUKAN RUANG BACA NOMOR TUJUH."Pesan terakhir dari ayah Sera terus terngiang di kepala mereka tanpa jeda, namun masalahnya adalah ledakan tadi berasal tepat dari arah perpustakaan dan sekarang seluruh kota bisa melihat segenap langit malam dipenuhi oleh lembaran kertas yang bukan sekadar kertas biasa, melainkan ribuan bahkan jutaan halaman buku melayang seperti butiran salju. Kemudian yang mengerikan adalah munculnya kenyataan pada saat setiap kali satu lembar menyentuh seseorang maka orang itu akan berhenti bergerak lalu tampak seperti linglung kebingungan."Siapa aku?" Itulah pertanyaan umum yang mulai terdengar dari berbagai sudut kota. Seperti terlihat seorang pengemudi taksi turun dari mobil lalu menatap kedua tangannya sambil berkata, "Siapa aku?"Kemudian tampak seorang polisi yang berhenti di tengah jalan dan bertanya pada dirinya sendiri, "Kenapa aku pakai seragam ini?"Terlihat pula seorang anak kecil sedang menangis sesengrukan seraya bertanya, "Ayahku siapa? Ay

  • Booking Terakhir   CHAPTER 29 : Orang Orang yang Kembali

    "Mereka adalah orang orang yang pernah dilupakan dan berhasil kembali." Kalimat Dito membuat udara terasa lebih dingin menusuk kalbu.Sedangkan kini di depan mereka, ratusan sosok terus berjalan perlahan dari arah apartemen. Mereka semua tidak mengaum atau pun menunjukkan perilaku layaknya monster

  • Booking Terakhir   CHAPTER 28 : Lampu yang Masih Menyala

    Angin berhembus lembut membuai di jalanan kosong. Tidak ada monster, tidak ada jeritan ataupun suara langkah yang mengejar. Namun justru itu yang membuat Raka merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Keadaan sunyi yang tak terasa wajar karena mampu memberikan sedikit rasa tenang.Kini ada empa

  • Booking Terakhir   CHAPTER 24 : Suara yang Sudah Mati

    "Raka...", Suara itu datang dari balik reruntuhan ballroom, pelan dan penuh kelembutan hingga nyaris tenggelam oleh suara bangunan yang runtuh.Tapi sepasang telinga Raka langsung mengenalinya dengan pasti dan tidak mungkin salah menurut keyakinannya. Jantungnya terasa seakan berhenti berdetak keti

  • Booking Terakhir   CHAPTER 23 : Harga yang Harus Dibayar

    "Kalau mau menyelamatkan Dito, maka kamu harus membunuh Naya!”Suasana lautan hitam mendadak sunyi karena ombak mendadak berhenti begitu saja. Angin dan suara pun lenyap seketika.Yang terngiang dan menggema di telinga Raka hanyalah kalimat itu bergelantungan dalam benaknya. Ketajamannya seperti pi

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status