Suara dentum logam yang menghantam beton menjadi latar belakang yang memekakkan telinga, menciptakan resonansi yang seolah merobek sirkuit di dalam kepala Monica. Di dalam lorong sempit yang hanya diterangi oleh lampu darurat berwarna merah yang berkedip, waktu seakan melambat. Monica bisa melihat debu-debu halus menari di udara, kontras dengan bayangan Javier yang panik di depannya. Namun, ada keheningan yang aneh di pusat kesadarannya—sebuah kekosongan yang dingin, seolah-olah jiwanya baru saja dicabut paksa dari sebuah koneksi mahabesar yang melampaui logika manusia. “Monica! Hei, lihat gue!” Javier menangkup wajah Monica dengan kedua tangannya. Telapak tangan pria itu kasar, bergetar, dan dingin, tapi ada kehangatan yang mendesak dari sana, mencoba menarik Monica kembali ke realitas. Monica mencoba menggerakkan ujung jarinya, tetapi sensasi itu tidak kunjung datang. Tubuhnya terasa seperti gumpalan daging yang mati rasa, berat dan tidak responsif. "Javier ... sistemnya
Last Updated : 2026-05-03 Read more