LOGINHari-hari berlalu dalam ritme yang tenang namun syarat akan jarak. Sean kini menghuni kembali rumah masa depan yang dulu mereka bangun bersama. Sebuah bangunan megah yang kini terasa terlalu luas, dingin, dan sunyi tanpa riuh tawa Fara dan putra kecil mereka, Sefan. Di sisi lain, Fara menetap di rumahnya yang ia beli sendiri bersama Sefan, dan sayang anak mereka yang masih di dalam perut. Sambil pelan-pelan menata kembali kepingan hidupnya yang sempat porak-poranda.Meski terpisah dinding status dan jarak, Sean tak pernah absen dari kewajibannya. Setiap pagi, tepat sebelum bertolak ke kantor, mobil Sean sudah terparkir rapi di depan pagar rumah Fara. Ia selalu menyambut Sefan dengan senyuman hangat, menggendong putra kecilnya itu penuh kasih sayang sebelum mengantarkannya ke Taman Kanak-Kanak. Tak lupa, ia juga setia mengantar Fara menuju tempat tujuannya.Dari kebiasaan pagi itulah Sean akhirnya mengetahui kesibukan baru sang istri, Fara kini tengah merintis sebuah toko bunga mungil
Pagi harinya, suasana di dalam tempat tinggal Fara terasa begitu mencekam. Matahari mulai meninggi di luar, tetapi cahaya hangatnya tak mampu menembus dinginnya kecanggungan yang mengepung ruang tengah.Sean duduk kaku di sofa tunggal. Pakaian basah yang ia kenakan semalam telah diganti dengan baju cadangan dari dalam mobil, tetapi penampilannya jauh dari kata rapi. Rambutnya berantakan, matanya merah menyala dan membengkak akibat rasa panik serta tangis sepanjang malam. Di seberangnya, Papa Narendra dan Mama Sarah duduk bersisian. Kedua orang tua Sean itu langsung meluncur dari rumah mereka menuju tempat tinggal menantunya begitu menerima pesan singkat dari Fara menjelang subuh tadi.Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar meragu dari balik lorong kamar. Fara berjalan pelan membawa nampan berisi cangkir-cangkir teh hangat. Di belakangnya– Sefan, anak mereka yang masih setengah sadar melangkah kecil, tampak kebingungan melihat raut wajah tegang para orang dewasa."Sefan... main di
Mobil sport hitam milik Sean membelah jalanan malam Jakarta yang basah oleh sisa hujan sore tadi. Wiper kaca depan berdecit pelan, namun tak mampu meredakan badai dan kepanikan di dalam dada Sean. Matanya memerah, sembap oleh air mata penyesalan yang tak kunjung berhenti menetes.Di mana Fara? Ke mana istrinya membawa Putra mereka di tengah malam begini? sudah hampir setengah hari penuh Sean menelusuri orang kota Jakarta, bodohnya apa yang dicari dari jalanan itu selain kekosongan karena ia sendiri tidak mengetahui tempat anak istrinya berada. "Bodoh, Sean, bodoh!” umpatnya seraya memukul roda kemudi dengan frustrasi.Rumah keluarga Fara sudah ia hubungi, namun baik sepupu maupun Om dan Tantenya mengaku tak tahu-menahu dan malah ikut panik. Sahabat-sahabat istrinya pun membisu, tak ada satu pun panggilannya yang diangkat. Fara benar-benar memutus akses.Di tengah keputusasaan yang mencekik, sebuah ingatan mendadak melintas di benak Sean.Beberapa bulan lalu, Fara pernah bercerita den
Tiba di apartemen, Fara langsung membimbing Sefan masuk ke kamar untuk beristirahat. Setelah membacakan dongeng singkat hingga bocah empat tahun itu terlelap dengan pulas, Fara melangkah keluar kamar dan menutup pintunya pelan-pelan. Di ruang tamu, Giselle sudah menunggu dengan raut wajah serba salah. Begitu pandangan mereka bertemu, Fara tidak lagi sanggup menahan pertahanannya. Tubuhnya merosot di atas sofa, dan tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah tanpa suara. Giselle langsung merengkuh bahu sahabatnya, membiarkan Fara menumpahkan seluruh air mata kepedihan di dadanya. "Maafin aku, Ra..." bisik Giselle dengan nada penuh penyesalan. "Maafin aku yang kemarin malah nyuruh kamu bersabar dan jangan menghakimi Sean, aku nggak tahu kalau ternyata dia se-brengsek ini..." Fara menggeleng lemah dalam dekapan Giselle. "Kamu nggak salah, Selle. Kamu cuma mau yang terbaik buat aku dan anak-anak. Aku yang terlalu bodoh masih nyimpan sedikit harapan kalau Mas Sean bakal berubah...
Satu bulan berlalu sejak percakapan mendalam antara Fara dan Giselle di kafe Dharmawangsa hari itu. Kehidupan Fara bergulir dalam ritme baru yang jauh lebih tenang, meski ada ruang hampa yang diam-diam kian membesar di sudut dadanya.Setiap pagi, Fara terbangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan, merapikan seragam Sefan, dan mengantar putra kecilnya itu pergi ke sekolah taman kanak-kanak yang terletak tak jauh dari apartemen barunya. Siang harinya, dengan setia ia kembali berdiri di depan gerbang sekolah untuk menjemput sang buah hati dengan senyum hangat.Hidupnya terasa jauh lebih waras selama satu bulan terakhir. Tidak ada lagi pertengkaran, tidak ada lagi rasa curiga yang menggerogoti pikiran. Namun, di balik ketenangan itu, ada kehampaan yang tak bisa ia pungkiri.Asal kalian tahu, selama satu bulan penuh ini, Sean sama sekali belum datang menghampirinya.Mama Sarah dan Papa Narendra memang sering menelepon, menanyakan kabar Sefan dan kondisi kandungannya yang kini beranjak ena
Fara menarik napas panjang, mencoba memusatkan kekuatannya sebelum menceritakan kronologi yang selama ini menghimpit dadanya. Giselle mendengarkan dengan penuh perhatian, tak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Fara. "Semua ini berawal satu bulan yang lalu, Selle," bisik Fara dengan suara parau. "Mas Sean pamit pergi ke Sydney untuk urusan bisnis bersama Papa Narndra yang katanya sangat krusial. Awalnya komunikasi kami lancar, tapi memasuki minggu kedua... dia mendadak hilang tanpa kabar. Teleponku tak pernah diangkat, dan pesan-pesanku cuma menumpuk tanpa dibaca. Perasaanku sebagai istri, benar-benar ngga tenang." Fara mengusap sudut matanya yang kembali basah saat kenangan pahit itu berputar ulang di kepalanya. "Karena rasa cemas yang makin menyiksa, aku nekat mengampiri kediama Narendra karena merasa aneh Papah dan masihan berangkat bersama namun Kenapa hanya papa saja yang pulang masih yang tidak pulang." "Ternyata Alasannya karena mas Sean sakit, dan Dia menyuruh
"Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa
Bella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini? Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan keten
"Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*." Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah
"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m







