LOGINSatu minggu sudah Sean menetap di rumah Fara di kawasan Jakarta Selatan. Tinggal di rumah yang tergolong lebih mungil dibanding hunian asli mereka yang megah dan berhalaman luas ternyata perlahan membuat Sean uring-uringan sendiri. Pria itu berulang kali membujuk dan mengajak istrinya untuk memboyong Stefan serta memboyong barang-barang mereka pulang ke rumah lama. Namun, Fara masih bersikeras menolak. Fara merasa sudah sangat nyaman dengan ketenangan rumah ini, dekat dengan toko bunganya, dan jujur saja, hatinya masih menikmati posisi di mana Sean harus 'berjuang ekstra' untuk keluarganya.Pagi itu, perdebatan kecil kembali pecah di ruang tengah."Sayang, sampai kapan kita mau begini? Rumah kita yang sana kosong, kasihan kalau ditinggal terus," bujuk Sean sambil merapikan kemejanya. "Di sini kamarnya juga sempit buat kita bertiga, apalagi sebentar lagi ada adik bayi."Fara yang sedang mengancingkan baju Sefan hanya melirik dingin. "Kalau Mas Sean merasa kesempitan dan nggak betah d
Pagi baru saja merekah di langit Jakarta, udara dingin sisa embun semalam masih menyelimuti jalanan ketika mobil Sean sudah terparkir rapi di depan pagar rumah Fara. Namun kali ini, Sean tidak sekadar menunggu di dalam mobil. Pria itu sudah berdiri di teras dengan kemeja kasual yang digulung hingga siku, membawa tiga cangkir kopi hangat dan kotak bekal berisi sarapan favorit Stefan. Pintu rumah terbuka, Fara keluar mengenakan gaun hamil terusan berbahan longgar dengan rambut diikat asal. Perut Fara yang kini sudah mulai membuncit di usia kehamilan ke enaam, terlihat begitu menggemaskan di mata Sean. Fara tampak tertegun melihat Sean yang datang jauh lebih awal dari biasanya, Sefan kecil berlari dari balik kaki Mamanya dan langsung menubruk kaki Sean. "Papa!" seru Seefan riang. Sean terkekeh, mengangkat tubuh mungil putranya dan mengecup pipinya gemas, "Pagi, Jagoan. Sudah siap bantu Papa sama Mama susun bunga nanti?" Fara menggeleng pelan dengan senyum tipis yang tak mampu
Hari-hari berlalu dalam ritme yang tenang namun syarat akan jarak. Sean kini menghuni kembali rumah masa depan yang dulu mereka bangun bersama. Sebuah bangunan megah yang kini terasa terlalu luas, dingin, dan sunyi tanpa riuh tawa Fara dan putra kecil mereka, Sefan. Di sisi lain, Fara menetap di rumahnya yang ia beli sendiri bersama Sefan, dan sayang anak mereka yang masih di dalam perut. Sambil pelan-pelan menata kembali kepingan hidupnya yang sempat porak-poranda.Meski terpisah dinding status dan jarak, Sean tak pernah absen dari kewajibannya. Setiap pagi, tepat sebelum bertolak ke kantor, mobil Sean sudah terparkir rapi di depan pagar rumah Fara. Ia selalu menyambut Sefan dengan senyuman hangat, menggendong putra kecilnya itu penuh kasih sayang sebelum mengantarkannya ke Taman Kanak-Kanak. Tak lupa, ia juga setia mengantar Fara menuju tempat tujuannya.Dari kebiasaan pagi itulah Sean akhirnya mengetahui kesibukan baru sang istri, Fara kini tengah merintis sebuah toko bunga mungil
Pagi harinya, suasana di dalam tempat tinggal Fara terasa begitu mencekam. Matahari mulai meninggi di luar, tetapi cahaya hangatnya tak mampu menembus dinginnya kecanggungan yang mengepung ruang tengah.Sean duduk kaku di sofa tunggal. Pakaian basah yang ia kenakan semalam telah diganti dengan baju cadangan dari dalam mobil, tetapi penampilannya jauh dari kata rapi. Rambutnya berantakan, matanya merah menyala dan membengkak akibat rasa panik serta tangis sepanjang malam. Di seberangnya, Papa Narendra dan Mama Sarah duduk bersisian. Kedua orang tua Sean itu langsung meluncur dari rumah mereka menuju tempat tinggal menantunya begitu menerima pesan singkat dari Fara menjelang subuh tadi.Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar meragu dari balik lorong kamar. Fara berjalan pelan membawa nampan berisi cangkir-cangkir teh hangat. Di belakangnya– Sefan, anak mereka yang masih setengah sadar melangkah kecil, tampak kebingungan melihat raut wajah tegang para orang dewasa."Sefan... main di
Mobil sport hitam milik Sean membelah jalanan malam Jakarta yang basah oleh sisa hujan sore tadi. Wiper kaca depan berdecit pelan, namun tak mampu meredakan badai dan kepanikan di dalam dada Sean. Matanya memerah, sembap oleh air mata penyesalan yang tak kunjung berhenti menetes.Di mana Fara? Ke mana istrinya membawa Putra mereka di tengah malam begini? sudah hampir setengah hari penuh Sean menelusuri orang kota Jakarta, bodohnya apa yang dicari dari jalanan itu selain kekosongan karena ia sendiri tidak mengetahui tempat anak istrinya berada. "Bodoh, Sean, bodoh!” umpatnya seraya memukul roda kemudi dengan frustrasi.Rumah keluarga Fara sudah ia hubungi, namun baik sepupu maupun Om dan Tantenya mengaku tak tahu-menahu dan malah ikut panik. Sahabat-sahabat istrinya pun membisu, tak ada satu pun panggilannya yang diangkat. Fara benar-benar memutus akses.Di tengah keputusasaan yang mencekik, sebuah ingatan mendadak melintas di benak Sean.Beberapa bulan lalu, Fara pernah bercerita den
Tiba di apartemen, Fara langsung membimbing Sefan masuk ke kamar untuk beristirahat. Setelah membacakan dongeng singkat hingga bocah empat tahun itu terlelap dengan pulas, Fara melangkah keluar kamar dan menutup pintunya pelan-pelan. Di ruang tamu, Giselle sudah menunggu dengan raut wajah serba salah. Begitu pandangan mereka bertemu, Fara tidak lagi sanggup menahan pertahanannya. Tubuhnya merosot di atas sofa, dan tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah tanpa suara. Giselle langsung merengkuh bahu sahabatnya, membiarkan Fara menumpahkan seluruh air mata kepedihan di dadanya. "Maafin aku, Ra..." bisik Giselle dengan nada penuh penyesalan. "Maafin aku yang kemarin malah nyuruh kamu bersabar dan jangan menghakimi Sean, aku nggak tahu kalau ternyata dia se-brengsek ini..." Fara menggeleng lemah dalam dekapan Giselle. "Kamu nggak salah, Selle. Kamu cuma mau yang terbaik buat aku dan anak-anak. Aku yang terlalu bodoh masih nyimpan sedikit harapan kalau Mas Sean bakal berubah...
Bella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini? Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan keten
"Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*." Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah
"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m
Jemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es. Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan di







