“Reyhan… bajingan…”Suara Bisma keluar pelan, tetapi penuh tekanan yang membuat udara di sekitar terasa berat. Rahangnya mengeras begitu kuat sampai otot di pipinya bergerak samar. Tangannya yang menggenggam pistol perlahan turun, tetapi jemarinya masih menegang seperti siap menghancurkan apa pun yang ada di depannya.Di lantai lorong, pecahan kaca masih berjatuhan pelan.Tik…Tik…Tik… Suara kecil itu terdengar mengerikan di tengah sunyi setelah ledakan flashbang tadi.Lampu darurat merah masih berkedip tidak stabil, memantulkan cahaya redup ke wajah Bisma yang kini terlihat jauh lebih gelap. Bau mesiu bercampur darah memenuhi udara, menusuk tajam hingga membuat napas terasa berat.“Raka…” suara Bisma akhirnya terdengar lagi, kali ini lebih dingin. “Cari Aru.”Raka yang baru naik dari lantai bawah langsung mengangguk cepat. Ada luka gores di pelipisnya, darah tipis mengalir sampai leher, tetapi ia mengabaikannya.“Tim sudah menyisir jalur utara dan pelabuhan, Bos.”“Kurang cepat.”N
Last Updated : 2026-05-08 Read more