Kereta terus melaju dengan kecepatan yang sama, membelah jalan panjang menuju wilayah tenggara. Langit masih diselimuti awan kelabu, sementara embusan angin di atas atap gerbong terasa semakin dingin seiring berjalannya waktu. Dior tetap duduk di tempatnya dengan pandangan lurus ke depan, seolah apa pun yang berada di sekitarnya tidak lagi menarik perhatiannya.Alexis, yang sejak tadi lebih banyak berbicara sendiri, akhirnya kembali memecah keheningan."Saat kita sampai nanti," katanya sambil meregangkan kedua lengannya, "kita harus mencari kuda. Naik kereta seperti ini terlalu menghabiskan waktu."Dior tidak memberikan tanggapan. Ia bahkan tidak menoleh.Alexis hanya menghembuskan napas pelan. Ia sudah terbiasa dengan sikap sahabatnya itu. Berbicara dengan Dior selalu terasa seperti berbicara kepada tembok. Jika beruntung, ia akan mendapat satu jawaban singkat. Jika tidak, yang ia dapatkan hanyalah keheningan.Beberapa saat kemudian, Alexis kembali menoleh ke arah Dior. Sudut bibirny
Read more