Dior tidak langsung menjawab.Ia berdiri diam, menatap Siera tanpa kata. Tatapan itu tajam dan dalam, seolah mampu menembus apa pun yang berusaha disembunyikan.Mata merahnya mengunci mata biru es milik Siera dingin, tenang, namun saat itu tampak rapuh. Untuk sesaat, Siera merasa dirinya seperti kelinci yang terjebak di hadapan pemangsa, tidak memiliki tempat untuk lari.Dan perasaan itu hanya berlangsung singkat.Dior menghela napas pelan, lalu menjauh. Jarak di antara mereka kembali terbuka, dan tanpa disadari, Siera merasa sedikit lega. Tekanan yang sebelumnya menyesakkan kini berkurang, meski tidak benar-benar hilang.“Baiklah,” ujar Dior akhirnya, nada suaranya datar seperti biasa. “Jika kau memohon seperti itu, aku tidak akan menolak.”Siera menatapnya.Bibirnya sedikit terbuka, ingin membantah. Ia tidak memohon setidaknya, bukan seperti yang Dior pikirkan. Namun ia tahu percuma saja. Lelaki itu tidak ben
Last Updated : 2026-05-07 Read more