LOGINSiera menerima hadiah itu dengan kedua tangan, gerakannya tenang dan penuh etika. Bunga kehormatan disematkan padanya, kontras dengan penampilannya yang masih menyimpan sisa-sisa kelelahan dari hari sebelumnya. Namun justru itu yang membuatnya terlihat berbeda bukan sekadar cantik, tetapi… kuat.
Di sisi lain, kaisar memperhatikannya dalam diam. Tatapannya tajam, seolah menilai sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Namun ia tidak mengatakan apa pun, hanya mengangguk kecil
Dior sedikit menyipitkan mata, sementara semua orang yang ada disana tercengang."Kematian palsu? Apa maksudmu?"Pria itu terdiam. Tubuhnya semakin gemetar hebat. Ia beberapa kali membuka mulut, tetapi tidak ada satu pun kalimat yang berhasil keluar. Tatapan puluhan anggota keluarga Arnett yang tertuju kepadanya membuat keberaniannya perlahan menghilang.Dior menunggu dan terlihat sabar."Katakan dengan jelas."Pria itu tetap diam. Kepala keluarga Arnett yang sejak tadi berlutut tidak jauh darinya langsung menoleh dengan wajah marah."Apa yang sedang kau lakukan?"Pria tua itu tersentak."Jangan sembarangan berbicara!" lanjut kepala keluarga. "Apa kau tahu apa akibat dari perkataanmu?""Namun, saya memang mengetahui sesuatu mengenai hal itu...""Diam!"Kepala keluarga Arnett membentaknya. Beberapa anggota keluarga lainnya ikut menunjukkan ketidakpuasan. Mereka tampak tidak terima karena salah satu dari mereka berani membuka sesuatu yang selama ini disimpan rapat-rapat."Kau ingin meng
"Beberapa tahun setelah pernikahan itu, Yang Mulia. Namun, surat yang kami terima tidak banyak. Setelah kabar kematiannya, tidak ada lagi komunikasi dengan pihak keluarga."Dregory yang sejak tadi diam akhirnya mengalihkan pandangan kepada pria tersebut. Penjelasan itu justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Jika Vernir memang meninggal, mengapa tidak ada bukti yang bisa memastikan kematiannya? Dan jika ia masih hidup, siapa yang selama ini menghalangi hubungan antara dirinya dan keluarga asalnya?Dior kembali berbicara."Siapa yang mengurus pengiriman Vernir ke Kekaisaran Barat?"Kepala keluarga Arnett menelan ludah."Keluarga kekaisaran, Yang Mulia. Kami hanya mengikuti keputusan yang telah ditetapkan.""Nama."Pria itu terdiam.Dior menatapnya lebih tajam. "Siapa orang yang mengurusnya?""Setahu saya... salah satu pejabat istana pada masa itu. Namun, saya tidak mengetahui apakah beliau masih hidup atau tidak."Dior tidak langsung menanggapi. Ia memperhatikan pria yang berlutut
Dregory terdiam.Matanya sedikit membesar ketika mendengar panggilan yang baru saja keluar dari mulut Dior. Ia bahkan sempat mengira dirinya salah dengar. Namun, melihat wajah kaisar yang tetap datar, ia tahu pria itu sama sekali tidak sedang bercanda."Apa?" tanyanya dengan suara tertahan.Dior sudah kembali mengalihkan pandangan ke meja."Aku bilang baiklah.""Bukan itu yang kumaksud!" Suara Dregory sedikit meninggi.Beberapa orang yang masih berada di dekat pintu langsung menoleh ke arah mereka. Mereka sebenarnya sudah hendak meninggalkan ruangan, tetapi panggilan Dior barusan membuat langkah mereka terhenti.Ayah mertua?Mereka saling pandang dengan ekspresi terkejut. Bahkan ada yang tanpa sadar menoleh kembali kepada Dior, seolah ingin memastikan bahwa kaisar benar-benar baru saja memanggil Duke Elvorn dengan sebutan tersebut.Dregory sendiri tampak semakin kesal. Ia menatap Dior lekat-lekat, seakan ingin meminta penjelasan mengapa pria itu bisa mengucapkan panggilan seperti itu
Dregory tidak langsung menjawab.Perkataan itu membuat suasana ruangan berubah. Selama ini, kematian wanita tersebut telah diterima sebagai fakta. Tidak ada jenazah yang dibawa pulang, tetapi penjelasan mengenai cinta sang pangeran dianggap cukup untuk mengakhiri segala pertanyaan. Tidak seorang pun merasa perlu menyelidikinya lebih jauh.Jika wanita itu sebenarnya masih hidup, maka seluruh cerita yang selama ini dipercaya bisa jadi hanya kebohongan. Dregory perlahan menegakkan tubuhnya."Kau berpikir mereka sengaja menyembunyikan keberadaannya?""Ada kemungkinan."Dior mengalihkan pandangan ke peta, meskipun pikirannya jelas tidak lagi tertuju pada jalur pelarian Lionel."Jika wanita itu masih hidup dan berada di Kekaisaran Barat, maka hubungan antara Lionel dan keluarga kekaisaran mereka bukan sekadar hubungan diplomatik."Dregory mulai memahami maksudnya. Ia kembali mengingat bahwa wanita tersebut merupakan adik perempuan Lionel. Jika keberadaannya memang disembunyikan, maka ada al
Dregory menatapnya lebih tajam."Silsilah keluarga kaisar?""Benar.""Apakah ada sesuatu yang Anda curigai?"Dior tidak segera menjawab. Ia memalingkan wajah ke arah peta di atas meja, tetapi pikirannya jelas sedang tertuju pada hal lain. Informasi yang diberikan Siera sebelumnya masih tersimpan dalam ingatannya, terutama mengenai hubungan rahasia antara Lionel dan Kekaisaran Barat.Jika adik perempuan Lionel benar-benar masih hidup dan telah dikirim ke Kekaisaran Barat sebagai selir kaisar mereka, maka hubungan kedua keluarga kekaisaran itu mungkin jauh lebih dekat daripada yang selama ini diketahui orang-orang.Dior tidak berniat mengambil keputusan hanya berdasarkan cerita dari kehidupan yang telah berlalu. Ia membutuhkan bukti yang dapat dipastikan di masa sekarang."Ada sesuatu."Mendengar itu, ekspresi Dregory berubah serius. Para jenderal kembali saling berpandangan. Mereka mulai memahami bahwa perintah tersebut bukan sekadar pemeriksaan biasa. Ada kemungkinan Dior sedang menca
Dior menatap Siera."Bagaimanapun beritahu aku, kau dan wanita itu sedang mencari lingkaran sihirnya, bukan?"Siera sedikit tertegun. Ia kemudian menghela napas pelan. Di tengah keadaan yang semakin kacau, Dior ternyata masih mengingat persoalan mengenai Zelka dan lingkaran sihir yang selama ini mereka cari."Keadaan sekarang sedang kacau. Kau tidak perlu memikirkan masalahku."Dior tidak segera menjawab. Tatapan merahnya tetap tertuju pada Siera, seolah perkataan wanita itu tidak mengubah apa pun dalam pikirannya."Apapun yang terjadi, kau yang terpenting."Siera terdiam sesaat. Ia sudah terbiasa dengan sikap Dior yang selalu mengutamakan keselamatannya, tetapi kali ini ia tidak ingin pria itu terus-menerus mengesampingkan segala sesuatu demi dirinya."Namun, sekarang apa yang terjadi bisa melibatkan banyak orang. Kau tidak boleh mengabaikan mereka hanya karena ingin mengurus masalahku."Dior memperhatikan wajahnya. Ia tidak membantah ataupun memberikan alasan. Setelah beberapa saat,
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau







