LOGINSiera menerima hadiah itu dengan kedua tangan, gerakannya tenang dan penuh etika. Bunga kehormatan disematkan padanya, kontras dengan penampilannya yang masih menyimpan sisa-sisa kelelahan dari hari sebelumnya. Namun justru itu yang membuatnya terlihat berbeda bukan sekadar cantik, tetapi… kuat.
Di sisi lain, kaisar memperhatikannya dalam diam. Tatapannya tajam, seolah menilai sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain. Namun ia tidak mengatakan apa pun, hanya mengangguk kecil
Tidak ada jawaban. Siera hanya kembali membaca buku itu hingga menemukan bagian tentang berbagai sihir dari Zaman Kuno, termasuk sihir perpindahan, perlindungan, pemanggilan, dan kemampuan melihat masa lalu.Hingga akhirnya ia menemukan judul Sihir Waktu. Di dalamnya dijelaskan bahwa sihir waktu dapat mempercepat atau memperlambat waktu, melihat masa lalu, hingga melihat kemungkinan masa depan. Namun ada satu bagian yang membuat Siera berhenti.Pengulangan Waktu.Sihir ini dipercaya dapat membawa seseorang kembali ke masa lalu dengan tubuh yang kembali ke usia tertentu, sementara ingatannya tetap ada.Siera terdiam. Penjelasan itu terdengar sangat mirip dengan apa yang telah dialaminya. Namun masih ada satu hal yang tidak bisa ia pahami. Jika ia benar-benar mengalami pengulangan waktu, mengapa Erick juga mengetahui kehidupan sebelumnya?Siera menatap halaman itu dalam diam. Mungkin semua ini memang bukan sekadar mimpi. Mungkin ada kekuatan yang memungkinkan waktu berulang dan ingatan
Siera terdiam sejenak. Ia kemudian berjalan perlahan menyusuri rak sambil mengarahkan cahaya lentera ke judul-judul buku yang tersusun di hadapannya."Sihir tidak sebatas magis, Mia."Mia memperhatikannya."Orang-orang gipsi sampai sekarang masih disebut sebagai keturunan penyihir. Aku ingin tahu sedikit tentang mereka."Mia terlihat mengangguk pelan, seolah mulai memahami alasan Siera mencari buku tersebut.Siera berhenti di depan sebuah rak tua."Keberadaan orang-orang gipsi sampai sekarang juga jelas menunjukkan bahwa sihir mungkin belum benar-benar hilang."Tangannya menyentuh punggung salah satu buku."Mungkin mereka masih mempraktikkannya. Hanya saja, kita tidak mengetahuinya."Mia tampak berpikir."Benar juga, sih."Kemudian, seolah baru teringat sesuatu, ia berkata, "Saya juga pernah mendengar kalau para bangsawan adalah keturunan dewa."Siera langsung menoleh."Itu omong kosong."Mia mengerutkan kening."Tapi di Kuil Suci ada banyak artefak kuno."Siera terdiam. Cahaya lenter
Siera tertegun mendengar jawaban Dior, ia kehilangan kata-kata. Pertanyaan yang awalnya hanya ia ajukan karena penasaran justru berakhir dengan jawaban yang membuat pikirannya semakin kacau.Dua kata itu terus terngiang di kepalanya. Selama hidupnya, Dior hanya pernah jatuh cinta satu kali. Terlebih lagi, lelaki itu mengucapkannya sambil memandang langsung ke arahnya, tanpa keraguan sedikit pun. Siera ingin bertanya siapa orangnya, tetapi keberanian untuk melakukannya seolah menghilang begitu saja.Dior tampaknya tidak berniat memberikan penjelasan tambahan. "Pulanglah. Aku tidak ingin Duke atau Yelian mengira aku menahanmu di istana."Siera hanya terdiam karena pikirannya masih tertuju pada percakapan mereka. Dior menunggunya sebentar, lalu menutup pintu kereta. Sebelum pintu tertutup sepenuhnya, pandangan mereka sempat bertemu, tetapi Siera tetap tidak mengatakan apa-apa.Kereta kemudian bergerak meninggalkan halaman istana. Dari balik jendela, Siera melihat Dior masih berdiri di t
Dior mengangguk kecil."Baik."Siera menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. Kemarahannya belum sepenuhnya hilang, tetapi kali ini hatinya terasa jauh lebih ringan.Untuk sekarang, ia tidak membutuhkan jabatan sebagai pewaris dan ia hanya ingin menunggu. Menunggu sampai Dior menyelesaikan semua yang sedang ia lakukan, lalu melihat ke mana kehidupan mereka akan membawa mereka setelah itu.Dior masih menggenggam tangan Siera. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap wanita itu dalam diam, seolah sedang memastikan bahwa tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan mengenai keputusan Siera.Namun kemudian Dior membuka suara."Siera."Siera mengangkat wajah.Dior menatapnya dengan ekspresi datar yang sama seperti sebelumnya. Tidak ada keraguan, tidak ada senyum, bahkan nada suaranya pun tetap tenang ketika ia mengajukan pertanyaan yang sama sekali tidak diduga Siera."Setelah semuanya selesai..." Ia berhenti sejenak. "Apa kau mau menikah denganku?"Siera langsung terdiam.Matanya
Siera mengatupkan bibir. Jawaban Dior membuatnya semakin yakin bahwa meskipun diberi kebebasan, lelaki itu tetap diam-diam mengatur jalan untuknya. Hal itu membuat Siera kesal.Setelah itu, Siera memilih diam dan melanjutkan makan tanpa menatap Dior. Dior tahu Siera sedang marah, tetapi tidak mengatakan apa-apa.Setelah selesai makan, Siera membersihkan bibirnya dengan serbet lalu berdiri dari kursinya.Dior hanya menatapnya."Apa kau marah karena itu?"Siera berhenti, tetapi tidak menoleh."Aku akan kembali," ucapnya pelan.Ia kembali melangkah, tetapi Dior segera bangkit dan mengejarnya. Ia tidak terbiasa melihat Siera menghindarinya seperti ini. Biasanya Siera akan mengatakan apa yang ia pikirkan, tetapi kali ini ia justru memilih pergi.Dior mempercepat langkah dan menahan tangan Siera sebelum wanita itu mencapai pintu."Kau tidak boleh pergi sebelum mengatakannya."Siera akhirnya menoleh. Tatapannya jatuh pada tangan Dior yang menggenggam tangannya, kemudian naik kepada wajah lel
Clarisse tidak menjawab. Ia hanya menatap Erick beberapa detik sebelum mengangguk."Baik, Yang Mulia."Clarisse kemudian meninggalkan ruangan. Setelah pintu tertutup, Erick tetap berdiri di depan jendela dengan pikiran yang terus tertuju pada Siera.Wanita itu benar-benar berubah, dan Erick tidak percaya perubahan itu terjadi tanpa alasan. Jika peramal tersebut berbohong, ia akan mencari tahu sendiri. Namun jika ramalan itu benar, Erick ingin mengetahui apa yang terjadi pada Siera dan mengapa wanita yang dulu mencintainya kini memilih Dior.Tangannya mengepal, Erick merasa Siera telah direbut darinya. Dan ia tidak berniat membiarkannya begitu saja....Sementara itu, Siera sedang makan bersama Dior di salah satu ruang makan pribadi istana. Suasananya jauh lebih tenang dibandingkan keadaan di luar, hanya terdengar suara peralatan makan yang sesekali beradu dengan piring. Namun sejak tadi, Siera tidak benar-benar memperhatikan makanan di hadapannya. Pikirannya terus kembali kepada perca
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga







