Bunyi benturan itu masih berdenging di udara. Semua percakapan seketika terhenti. Mata semua orang di ruangan VVIP itu tertuju pada Mas Tian. Tangan pria itu masih mencengkeram erat meja, urat-urat di punggung tangannya menonjol menahan emosi. Namun sedetik kemudian, ia menarik napas panjang. Rahangnya yang mengeras perlahan mengendur, meski matanya tetap menyorot tajam. "Maaf," ucap Mas Tian dengan suara parau yang terdengar dipaksakan. "Tangan saya licin." Sebuah alasan yang teramat kaku. Namun Kak Gavin sama sekali tidak terpengaruh oleh letupan emosi itu. Ia duduk dengan tenang, bahunya rileks, sama sekali tidak gentar menghadapi tatapan Mas Tian yang seolah ingin menelannya hidup-hidup. "Sejak kapan?" tanya Mas Tian. Suaranya rendah. Dingin. Mengandung tuntutan yang hanya bisa dirasakan oleh kami yang duduk di sudut meja ini. Kak Gavin menatap balik tanpa berkedip. "Hampir satu minggu, Kak," jawabnya mantap. Hening sejenak. Lalu, suara tawa Tuan Aryasena memecah
Huling Na-update : 2026-10-03 Magbasa pa