Mendengar suara deru mesin motor itu, aku segera bangkit dan melangkah menuju pintu utama, membukanya perlahan. Di pelataran teras, Kak Gavin baru saja melepaskan helm full-face miliknya. Ia mengenakan jaket denim, menenteng sebuah kantong paperbag berisi makanan di tangan kirinya. Begitu melihatku berdiri di ambang pintu, Kak Gavin segera melangkah menghampiriku. Ia tersenyum teduh, dengan tatapan lembut yang menyiratkan kerinduan mendalam. "Hai," sapanya pelan. Ia mengangkat tangannya yang bebas, mengusap puncak kepalaku dengan lembut. "Mata kamu sembap banget, Ran. Beneran secapek itu, ya, semalam?" Aku menelan ludah. Sentuhannya begitu hangat, hati-hati, dan penuh rasa hormat. Sangat berbanding terbalik dengan sentuhan Mas Tian yang selalu dipenuhi tuntutan dan rasa kepemilikan mutlak. "Iya, Kak," jawabku dengan suara serak. "Maaf, ya, Kakak jadi repot-repot nyari alamat ke sini, padahal aku cuma kecapekan biasa." Kak Gavin tersenyum semakin lebar, lalu merangk
Última atualização : 2026-10-20 Ler mais