Gelap. Kesadaranku perlahan muncul dari kegelapan yang menyelimutiku. Namun, alih-alih merasa lebih baik, kepalaku justru terasa begitu berat. Nyeri berdenyut di pelipis kanan, seolah ada sesuatu yang terus menghantam bagian dalam kepalaku. Aroma antiseptik yang khas segera memenuhi indra penciumanku. Aku tahu sedang berada di rumah sakit, meskipun belum sanggup membuka mata. Kelopak mataku terasa berat. Tubuhku pun seolah kehilangan seluruh tenaga. Bahkan untuk sekadar menggerakkan jemari, aku harus mengerahkan usaha yang luar biasa. Di tengah kesadaran yang masih samar, telingaku mulai menangkap percakapan beberapa orang di dekat ranjang. “Pulanglah sebentar, Vin. Bersihkan dirimu dan ganti pakaian,” ujar seorang wanita dengan suara lembut. Itu ibu Kak Gavin. “Tapi, Bu, aku mau tetap di sini sampai Rania sadar.” Suara Kak Gavin terdengar berat. Ada kecemasan yang begitu jelas di balik ucapannya. “Benar kata ibumu, Nak Gavin,” timpal Bunda. “Di sini masih ada kami yang menj
Last Updated : 2026-11-01 Read more