Aku menatap matanya yang gelap itu. Kemarahannya sudah tidak lagi bisa ditahan. Rahangnya menegang, napasnya berat, dan tatapannya begitu tajam hingga aku merasa seperti sedang dilahap hidup-hidup. “Kamu milikku, Rania,” katanya dengan suara rendah yang menggetarkan. “Tidak ada laki-laki lain yang boleh-.” Nama itu terucap dengan penuh kebencian. Aku mendorong dadanya sekuat tenaga. Kali ini lebih keras. Tubuhnya sedikit terangkat, cukup memberiku ruang untuk berbicara dengan jelas. “Aku bukan milik Mas!” suaraku tegas, meski bergetar hebat. Mas Tian terdiam. Tatapannya berubah tajam. “Jangan coba-coba melawanku, Rania.” Aku terus mendorong, mencoba melepaskan cengkeraman di pergelangan tanganku. Air mata sudah mulai menggenang, mendesak di pelupuk mata, tapi aku menahannya sekuat tenaga. Mas Tian menatapku dalam diam beberapa detik. Lalu, seolah amarah dan rasa kepemilikannya meledak tanpa sisa, ia menekan tubuhku kembali ke kasur dengan lebih kuat. Satu ta
Last Updated : 2026-09-18 Read more