Sebelum Bunda sempat memberi instruksi, sosok bergaun selutut warna peach itu sudah muncul di ambang pintu.Penampilannya selalu tanpa cela, rambut tertata rapi, riasan wajah yang pas, serta senyum anggun yang seolah menempel alami di wajahnya.“Ya ampun, Rania!” Kak Giselle bergegas mendekat, memasang raut prihatin. “Tante bilang kamu jatuh semalam. Makanya aku langsung mampir begitu pekerjaan agak senggang.”Bunda tersenyum hangat.“Kamu ini repot-repot sekali. Rania sudah ditangani dokter, kok.”Kak Giselle meraih jemariku, mengusapnya pelan.“Kamu harus lebih hati-hati, Rania. Kalau kamu kenapa-kenapa, Tante sama Mas Tian kan jadi ikut kerepotan.”Ada nada halus yang sengaja diselipkan saat nama Mas Tian terucap dari bibirnya.Aku membalas senyumnya seadanya, lalu menarik tanganku secara perlahan.“Iya, Kak. Maaf sudah bikin khawatir.”Dokter berdeham pelan, memecah ketegangan terselubung itu.“Nyonya, pemeriksaan sudah selesai. Saya izin pamit dulu.”“Ah, iya, Dok.”Bunda berdir
Last Updated : 2026-09-28 Read more