Bianca memejamkan mata beberapa detik, mencoba menstabilkan rasa gugupnya sebelum akhirnya mengambil keputusan. ‘Mau gak mau, gue harus hadapi Natasya..’ Ia menoleh ke arah Dirga yang masih memperhatikannya. “Kak Dirga, berarti ya.. Aku angkat telepon dulu, kalau gak nanti bunyi terus teleponnya..” ucap Bianca mencari alasan. “Oh oke..” Bianca pun berdiri dan berjalan keluar ruangan, menjauh dari kubikelnya agar pembicaraannya tidak didengar siapapun. [Halo Sya, ada apa?!] [Bianca, ada hal penting mau gue omongin sama lo! Temui gue jam istirahat lo! Di cafe bawah kantor lo!] [Tapi Sya, gue—] [Lo temuin gue atau lo tanggung akibatnya!] [Gua gak tau apa mau lo, Sya.. Tapi oke, gue temuin lo..] [Bagus. Gue tunggu lo, jangan telat!] KLIK..! Bianca menghela nafas panjang mendengar sambungan telepon terputus begitu saja. Ia menggenggam ponselnya erat. ‘Gue pasti bisa hadapi Natasya. Lagian Pak Damian sendiri nolak dia, Natasya aja yang kepedean ngebet nikah. Tapi, status g
Read more