"Eh... Maksud aku, muka suamiku ini selalu berwibawa dan penuh ketegasan, gitu lho, Damian.." ralat Bianca cepat sambil menyunggingkan senyum centil yang paling menggemaskan. 'Hampir aja gue keceplosan lagi! Untung refleks gue cepat bekerja!' batin Bianca lega. Dirga menghembuskan napas lega yang sangat panjang, seolah beban berat yang menghimpit dadanya mendadak terangkat seketika. "Terima kasih banyak atas restunya, Pak Damian, Bianca. Ini sangat berarti bagi saya." "Hmm.. Dia kakak ipar mulai, panggil dia—" “Ehh.. Gapapa.. Panggil Bianca aja!” sahut Bianca cepat. “Bianca..” “Ayolah, sayang.. Jangan terlalu kaku ya, biar aja panggilan seperti biasanya.. Kak Dirga mungkin juga bisa panggil kamu Kak Damian aja kalau dirumah, gimana? Kalau di perusahaan bolehlah panggil Pak, ya..?!” pinta Bianca penuh harap. Damian mengalihkan pandangannya, menegakkan duduknya dan menoleh kearah Dirga. "Kapan orang tuamu datang?" "Orang tua saya akan datang minggu depan dari luar kota,
Read more