Angin berembus kencang, membelai dan mengacak helai rambut Leonard yang berdiri kaku di rooftop rumah sakit milik Arsen. Tatapan matanya dingin, tertuju pada deretan mobil mewah yang perlahan bergerak meluncur meninggalkan area rumah sakit.Pandangan matanya beralih pada langit yang terlihat cerah dengan matahari teriknya, matanya sedikit menyipit, menghalau silau yang menusuk tepat ke retina. Betapa ironis, langit cerah dan terik matahari seolah mengejek kekacauan hatinya.Leonard mengembuskan napas panjang, membiarkan hawa panas dan hempasan angin menerpa wajahnya tanpa bergeming sedikit pun. Bagi pria itu, kehangatan cahaya di atas kepalanya sama sekali tak mampu menyentuh bongkahan es yang membeku di dalam dadanya.Perlahan, ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah pemantik api perak yang dingin. Dengung samar deru mesin mobil yang kian menjauh di bawah sana menyisakan keheningan yang tajam.Angin kembali berembus, membuat jas hitam panjang yang dikenakannya berkibar pelan.
Read more