Hujan deras mengguyur pesisir kota sejak tengah malam. Kilatan petir sesekali membelah langit pekat, disusul gemuruh yang mengguncang udara. Butiran air menghantam atap rumah, dedaunan, hingga kaca-kaca besar kediaman Maheswara, menciptakan irama yang seharusnya menenangkan.Namun, berbeda dengan keadaan di dalam rumah. Bercak merah terlihat jelas di lantai putih vila, kursi-kursi yang semula terlihat rapi, kini terlihat berantakan. Suara alunan hujan menjadi gema yang membekap jerit tangis seseorang yang meringkuk di sudut ruangan.Ratih memeluk lututnya erat. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal, sementara telapak tangannya yang lecet meninggalkan jejak merah di lantai marmer."Jangan ... tolong ..." bisiknya lirih dengan suara bergetar.Tak jauh di depannya, sebuah meja kayu terbalik. Pecahan vas, bingkai foto keluarga, dan beberapa lembar dokumen berserakan di segala arah seolah baru saja terjadi pergulatan.Surya berdiri beberapa langkah dari sana. Napasnya memburu, jas yan
Read more