Hari terus berganti. Namun duka itu tidak pernah pergi, Agnira yang biasanya selalu ceria, kini terlihat selalu merenung dan terdiam. Sedangkan Nayara, wanita itu bahkan sangat jarang membuka suaranya lagi.Kedua wanita itu terlihat sama-sama patah, luka berbeda dengan orang yang sama. Tawa yang senantiasa berada di kediaman Lakeswara menghilang, berubah hening dan sunyi."Nyonya," panggil Nayara pelan, "apa Anda menginginkan sesuatu?" Agnira menggeleng lemah. Tatapannya terus terpaku pada sebuah bunga mawar yang bermekaran di halaman rumah. Angin berembus pelan, meniupkan helai kelopaknya dan berguguran ke bawah tanah."Maaf, Nay." Agnira menarik napas panjang, sebelum melanjutkan kata-katanya. "Maaf, karena aku sudah membuat orang yang kau cintai pergi." Tangan Nayara terkepal, dadanya bergemuruh hebat. Ucapan Agnira berhasil membuat pertahanannya sedikit goyah."Kenan pernah cerita, kalau dia sedang menyukai seseorang." Agnira menerawang jauh ke depan, mengingat saat-saat wajah K
اقرأ المزيد