Awalnya memang tidak masalah, tetapi setelah Sambara menjelaskan semuanya dengan rinci, Agnira akhirnya memahami alasan pria itu begitu keras mempertahankan rumah tangga mereka.Air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan perlahan runtuh begitu saja. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Agnira bangkit dari duduknya. Langkahnya pelan, nyaris limbung, menuju kamar."Sayang," panggil Sambara, berusaha menahan langkah Agnira."Aku mau sendiri, bolehkan?" Pintu tertutup pelan. Begitu tubuhnya bersandar pada daun pintu, pertahanan yang selama ini ia bangun langsung runtuh. Kedua telapak tangannya menutupi wajah. Isak tangis yang semula tertahan berubah semakin keras, memenuhi ruangan.Dadanya terasa sesak. Bukan karena cemburu pada masa lalu Sambara. Bukan pula karena keberadaan Leana. Melainkan karena alasan Sambara mau menikahinya. Alasan yang selama ini ia cari-cari."Kenapa ...?" lirihnya di sela tangis. "Kenapa harus aku?" Di balik pintu, Sambara hanya terpaku. Suara tangisan itu terdengar
Read more