LOGINSambara menatap Arman tanpa berkedip. Seringai tipis terukir di bibirnya. Tubuh bagian atasnya terekspos karena tidak mengenakan baju, sementara percikan darah Aurelie terlihat menodai kulit dan bahunya.Dalam cahaya redup gudang, wajah Sambara tampak semakin mengintimidasi. Tatapannya tajam dan penuh kewaspadaan, terus mengawasi Arman beserta anak buahnya, seolah menunggu siapa pun yang berani mengambil langkah lebih dulu."Apa kau pikir satu tembakan akan membuatku takut?" Arman mengangkat pistolnya, mencoba mempertahankan keberanian yang mulai goyah.Sambara justru tertawa pelan. "Bukan satu tembakan yang seharusnya kau takutkan."Ia menggeser pandangan ke arah belasan anak buahnya yang kini mengepung gudang dari berbagai sisi. "Yang harus kau takutkan adalah kenyataan bahwa kau tidak punya jalan keluar."Arman melirik ke belakang. Jalan menuju hutan sudah tertutup. Anak buah Sambara berdiri dengan senjata terarah kepada kelompoknya."Turunkan senjata!" teriak salah satu anak buah
Senyum Aurelie semakin lebar ketika melihat perubahan pada wajah Sambara. Pria itu masih berdiri tegak, tetapi napasnya mulai berubah berat. Tatapannya yang semula tajam perlahan tampak membayang.Jari-jari Sambara mengepal kuat, berusaha mempertahankan kendali atas tubuhnya sendiri. Aurelie tertawa kecil—tawa puas karena merasa berhasil menjebak pria itu."Bagaimana rasanya, Sambara?" Ia melangkah mendekat. "Kau selalu terlihat begitu kuat, selalu mampu mengendalikan semua orang di sekitarmu." Aurelie memiringkan kepalanya. "Tapi untuk malam ini, kau tidak akan bisa mengendalikan dirimu sendiri."Sambara tidak menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melirik serpihan serbuk yang berserakan di lantai. "Apa yang kau masukkan ke dalam serbuk itu?""Kenapa? Takut?""Jawab." Nada suara Sambara terdengar rendah dan berbahaya.Aurelie terkekeh. "Sudah terlambat untuk bertanya."Ketika Aurelie melangkah mendekat, Sambara bergerak cepat. Ia melepas jaketnya dan melemparnya ke sudut
Malam semakin larut ketika suara deru mesin mobil membelah kesunyian. Sebuah mobil hitam melaju meninggalkan kediaman Lakeswara. menyusuri jalanan yang semakin sepi. Lampu-lampu kota perlahan menghilang, berganti dengan pepohonan tinggi yang berdiri rapat di sepanjang jalan. Sambara duduk di kursi belakang dengan tatapan lurus ke depan.Wajahnya tenang. Namun jemarinya sesekali mengetuk pelan pahanya, sebuah kebiasaan kecil yang hanya muncul ketika pikirannya sedang dipenuhi sesuatu yang mengganggu.Arman. Nama itu kembali berputar di kepalanya. Selama ini Sambara mengira semua kejadian yang menimpanya memiliki hubungan dengan Leonard. Namun semakin banyak informasi yang ia dapatkan, semakin jelas bahwa ada seseorang yang bekerja dari balik layar.Seseorang yang bahkan mampu memengaruhi orang-orang di sekelilingnya tanpa menunjukkan wajah. Dan kini gudang tua itu kembali muncul dalam semua kekacauan tersebut. Arman. Pria itu tidak bisa Sambara anggap remeh.Sambara mengangkat ponseln
Di waktu yang sama, rintihan lirih terdengar dari dalam gudang tua di pinggir hutan. Aurelie terus menangis menahan rasa sakit yang menjalar dari jari tengahnya. Tangannya bergetar hebat, sementara wajahnya basah oleh air mata.Ia menatap perban yang membungkus jarinya dengan tatapan penuh kebencian. "Brengsek." Suara itu keluar nyaris seperti bisikan. Aurelie menggigit bibir, berusaha menahan isakannya. Namun rasa sakit yang masih berdenyut membuat air matanya kembali jatuh."Arsen.". Nama itu keluar dari bibirnya dengan penuh kebencian.Pria itu benar-benar gila. Hanya karena dirinya kalah taruhan, Arsen tega memberikan hukuman seperti itu. Aurelie menarik napas panjang, kemudian bersandar pada dinding kayu di belakangnya. Tatapannya menyapu ruangan yang remang-remang.Gudang tua itu begitu sunyi. Hanya suara angin yang sesekali menerobos celah dinding dan suara tetesan air dari atap yang terdengar. Tidak ada seorang pun di sana, atau setidaknya, begitulah yang Aurelie pikirkan.Ti
Arsen melemparkan sesuatu begitu saja ke atas meja. Kini mereka bertiga berada di ruang kerja Sambara, tanpa kehadiran siapa pun dari luar. Suasana yang sebelumnya dipenuhi candaan mendadak berubah jauh lebih serius.Alis Sambara mengernyit ketika pandangannya jatuh pada benda menjijikkan yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ia menarik napas dalam-dalam. Tatapannya kemudian berpindah dari benda tersebut kepada Arsen, lalu kepada Leonard. Bibirnya tetap terkatup, tetapi sorot matanya sudah cukup jelas menyampaikan satu pertanyaan.Arsen terkekeh pelan. "Jari Aurelie." Ia menunjuk benda di atas meja dengan santai. "Dia kalah taruhan."Arsen menyandarkan tubuhnya pada kursi, seolah baru saja menceritakan sesuatu yang sama sekali tidak mengganggu pikirannya."Jadi, aku memotong jarinya." Senyum tipis terukir di wajahnya. "Sederhana, bukan?"Sambara menarik napas dalam, ia meraih benda itu dan menatapnya tajam. Kuku runcing berwarna merah dengan bagian bawah yang masih mengeluarkan dara
Aroma masakan menguar di atas meja makan. Beberapa hidangan terjadi dengan rapi dan tertata baik. Agnira sudah duduk dengan nyama, walaupun matanya terus menatap takut pada pria yang duduk di depannya.Leonard, pria itu terlihat jauh lebih dingin dari Sambara. Auranya menekan, sorot mata birunya menusuk begitu tajam."Jangan terus menatap istriku, Leon," tegur Sambara dingin.Leonard melirik ke arah sahabatnya dengan sinis, tetapi pandangan tetap mengarah pada Agnira. Iris biru itu terus memperhatikan setiap gerak yang Agnira lakukan, dari cara Agnira duduk, makan, dan bahkan minum. Semua sama, seperti Leana.Agnira yang merasa tidak tahan dengan tatapan itu, menaruh sendoknya di atas meja dan menatap tajam pada Leonard. "Kenapa kamu melihatku terus?"Leonard tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil gelas di samping piringnya, meneguk sedikit air, kemudian meletakkannya kembali dengan gerakan tenang."Kau mirip dengannya."Alis Agnira berkerut. "Dengan siapa?""Adikku."Jawaban si
"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge
Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak
Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang
"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b







