Air sungai bawah tanah itu terasa seperti es cair yang menelan tulang sumsum. Di dalam Lorong Akar Purba, tidak ada matahari, tidak ada angin, dan tidak ada waktu. Satu-satunya penerangan berasal dari lumut gaib yang menempel di langit-langit batu, memancarkan cahaya hijau kebiruan yang redup dan menakutkan. Suara gemericik air yang semula terdengar menenangkan di permukaan, kini bergema di dalam ruang tertutup bagai bisikan roh-roh yang tersesat. Barisan pengungsi dari Jenggala bergerak lambat, berendam di dalam air yang setinggi dada orang dewasa. Wira dan Burhan berjalan di depan, memandu sebuah rakit bambu kecil yang mereka buat dari batang-batang bambu tua yang tumbuh di dekat mulut gua sebelum runtuh. Di atas rakit itu, terbaring Dewi yang masih sangat lemah pasca-persalinan, bersama bayi Kirana yang dibungkus rapat dengan kain batik dan selendang sutra. Di sisi rakit, para ibu mengikat tali rotan ke pinggang mereka, saling terhubung satu sama lain agar tidak a
Read more