Matahari pagi perlahan mengintip dari balik tebing kapur, menyiramkan cahaya keemasan ke atas Lembah Mandala yang masih menyisakan jejak-jejak pertempuran semalam. Di tengah alun-alun yang berlumpur, Gajah Agung Cakra Bima masih berlutut di dalam rawa buatan, napasnya yang berat kini terdengar tenang, tidak lagi diburu oleh amarah dan rasa sakit. Puluhan pria, yang semalam masih saling incar sebagai musuh bebuyutan, kini berdiri bahu-membahu di tepi lumpur. Bisma, prajurit muda dari pasukan timur, dan Ki Darmaji, nahkoda tua dari persekutuan akar, bersama-sama memegang tali rotan raksasa yang diikatkan pada lempengan perunggu di punggung sang gajah."Tarik perlahan! Jangan sampai paku besinya merobek dagingnya lebih dalam!" seru Arga, yang berdiri di dalam lumpur setinggi pinggang, menggunakan pengungkit dari batang kayu jati untuk mencongkel paku-paku besar yang menancap di kulit hewan malang itu. Keringat membasahi wajahnya, bercampur dengan percikan lumpur, namun matanya
続きを読む