Masuk"Humm." Elzeren berdehem rendah, "ayo berangkat," ujarnya kemudian, segera bangkit dari sofa sambil menggendong istrinya yang ketiduran. Kaina tadinya sedang menonton sambil menunggu kabar dari Rizon mengenai kepulangan mereka malam ini. Kaina memang sangat suka menonton dan dia juga kebiasaan ketiduran saat menonton. Setelah di mobil, Elzeren memilih memangku istrinya agar Kaina tetap tidur nyenyak. Bahkan saat tiba di bandara dan naik ke pesawat, Elzeren sama sekali tidak membangunkan istrinya. "Huaaa …." Kaina menguap pelan sambil menutup mulut. Dia membuka mata, langsung mengerutkan kening karena … dia di pesawat?! "Kau sudah bangun?" Elzeren sekadar basa-basi, menatap istrinya lekat dan intens. "Kita sudah di pesawat, Mas?" tanya Kaina dengan kedua alis yang naik. Dia menatap polos dan campur bingung pada suaminya. "Humm. Tadi kau ketiduran," ujar Elzeren rendah. "A-aku ketiduran yah?" Kaina kembali bertanya dan mendapat anggukan dari suaminya, "umm-- berapa jam lagi
'Oh yah, jadi kau membunuh sahabatmu sendiri demi Kaina?' Elzeren menghela napas sejenak dan cukup panjang. Dia lalu diam untuk membiarkan gejolak emosional muncul dan reda sendiri. Sejujurnya menghukum Freza bukanlah hal mudah baginya. Bagaimanapun perempuan itu adalah sahabat yang pernah menemani hari-harinya. Sebagian kisah hidupnya, diisi oleh perempuan itu. Namun, apa yang perempuan itu lakukan membuat Elzeren terpaksa menutup mata dan hati pada persahabatan mereka. Rasa kekecewaan yang ditimbulkan oleh Freza, terlalu kuat sehingga belas kasih mati dalam diri Elzeren. Ini bukan hanya tentang lebih memilih istri yang dicintai dibandingkan sahabat yang sudah lama di sisinya. Ini bukan persoalan dirinya yang lebih memihak pada istrinya—rela membunuh sahabatnya sendiri hanya demi membuktikan cinta. Tidak sama sekali! Namun, apa yang Freza lakukan baik sebagai orang asing maupun sahabat, itu tidak bisa dimaafkan bagi Elzeren. Malah rasanya sangat menyakitkan dan mengecewakan
"Hah?" Kaina mengerjap beberapa kali, menatap aneh campur bingung pada suaminya, "ya iya lah, Mas. Ngapain dicari lagi? Memangnya Mas rela aku punya suami baru?""Kaina Ghazan Smith!" geram Elzeren, menatap dingin dan tajam pada istrinya. Kaina menaikan kedua alis lalu menatap konyol padanya Elzeren. "Loh, kok marah? Kan Mas Eiren yang kepengen aku cari cinta lain.""Ck." Elzeren berdecak kesal. Cup' Setelan itu, dia langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir istrinya, melumat bibir Kaina cukup kasar dan penuh gairah. Namun, ciuman itu hanya berlangsung singkat karena Kaina mendorong Elzeren agar berhenti menciumnya. "Mas Eiren kenapa sih?" Kaina menatap berang pada Elzeren. "Pergi sana ke luar negeri!" tambahnya sebal karena Elzeren menciumnya dengan kasar. "Kau yang kenapa?!" Elzeren balik ketus. "Bangun-bangun bukannya mencariku, kau langsung mencari si pria kering jelek itu!""Kan … a-aku penasaran sama kondisi Rangga." Kaina menjawab sebal. "Dia sudah mati." Elzeren menata
Kaina terus mondar-mandir di dalam kamar, dia tak tenang karena rasa penasaran yang sedang menggerogoti hatinya. Sampai sekarang, dia masih ingin melihat apa yang terjadi di halaman belakang. Sayang sekali, dia tak berani ke sana—dia tak berani membantah ucapan Elzeren. "Aku penasaran apa yang terjadi pada si Rangga. Ck, padahal kalau aku lihat dan tahu apa yang terjadi ke dia, aku kan jadi bisa memberitahu Sera tentang si brengsek itu," gumam Kaina, pada akhirnya memilih duduk di ujung ranjang. Ceklek' Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Elzeren yang masuk dengan wajah datar dan tatapan yang cukup tajam. "Kenapa belum tidur, Janu?" tanya Elzeren, mendekat ke arah Kaina yang duduk di ujung ranjang. "Menunggu Mas Eiren," jawab Kaina. Elzeren menaikkan sebelah alis, sudut bibirnya tertarik sedikit. Ah, sepertinya Kaina masih menginginkan sentuhannya. Atau … istrinya rela menunggu selama ini hanya untuk melanjutkan malam panas mereka? Kaina tiba-tiba berdiri dan mendadak men
"Sudah mati." Elzeren memotong cepat, duduk di sebelah istrinya sambil merangkul pundak Kaina dengan mesra. "Rangga-nya?" tanya Kaina dengan mata melotot. Elzeren menganggukkan kepala secara pelan. "Kau takut?"Kaina menyingkirkan tangan Elzeren yang ada di pundaknya. "Takut apanya? Mas nggak seru, nggak ngajak-ngajak," cemberut Kaina. Elzeren senyum tipis sambil mengacak surai pada pucuk kepala istrinya. Ah, dia lupa jika istrinya ini seorang tuan putri Adam dan adik kesayangan dari Xavier Ghazan Adam. Jelas hal seperti ini biasa untuk istrinya. Maksudnya … menghabisi seseorang yang terlalu mengusik dan kelewatan. "Dia itu punya banyak salah padaku, Mas. Dulu … dia pernah memfitnahku penyuka sesama jenis." Kaina setengah mengomel, tak terima Rangga mati begitu saja. "Dia sudah mati, kau seharusnya senang, Janu," ucap Elzeren sambil mengumpulkan anakan rambut istrinya lalu menyelipkannya ke belakang daun telinga. Tatapannya sama sekali tak lepas dari istrinya, wajah cemberut Kain
"Kau sedang apa, Eiren?!"Elzeren menatap cukup serius pada sosok pria paruh baya di depannya, lalu melirik ke belakang—menatap ke arah sosok perempuan cantik yang sedang senyum kaku padanya. Elzeren buru-buru melangkah masuk kemudian mengunci pintu agar pria paruh baya tersebut tidak melihat ke luar. "Apa yang kau sembunyikan, Hum?" Pria paruh baya itu menatap dingin dan penuh peringatan pada Elzeren. Elzeren menggelengkan kepala secara pelan lalu senyum tipis pada sosok berwibawa di depannya. "Tidak ada hal apapun yang kusembunyikan, Daddy," ucapnya pelan dan terkesan ramah, lagi-lagi senyum tipis untuk meyakinkan daddy-nya. Setelah itu, Elzeren menatap ke arah perempuan di belakang daddy-nya, tak lain istrinya yang … pengadu. Elzeren senyum tetapi melotot galak dan penuh peringatan. Calean Dante Smith, daddy-nya, mendidiknya dengan penuh kelembutan tetapi tegas. Intinya, hal yang Elzeren lakukan di halaman belakang, itu sangat dilarang oleh daddynya. Ada aturan untuk menghukum
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e







