Padahal ada kakaknya sang sama hancurnya dengannya akan tetapi berusaha tetap tegar hanya demi dirinya. "Maafkan aku, Kak," cicit Viviana pelan, menggeser kursinya supaya lebih dekat dengan Sera. Setelah itu, dia meraih tangan Sera. Dia menunduk dalam, menempelkan punggung tangan Sera pada keningnya lalu menangis terisak, "selama Ayah hidup, aku merasa sering merebut kasih sayang Ayah dari Kak Sera. Maafkan Viviana, Kak, karena … bahkan di saat pergi, Kakak harus memendam kesedihan Kakak hanya demi menopangku. A-aku sangat tidak berguna, a-aku jahat pada Kakak. Tolong maafkan Viviana, Kak …." "Nggak ada yang harus Kakak maafkan karena kamu tidak pernah berbuat salah pada Kakak," ucap Sera lembut, menarik tangannya pelan lalu memilih memeluk adiknya, "apa yang Ayah berikan padamu, itu sudah seharusnya Ayah padamu. Tidak lebih tidak kurang. Itu hakmu sebagai putrinya. Adapun Kakak … Kakak putri pertama Ayah. Jadi sudah seharusnya berbeda. Jangan salahkan dirimu, kamu hanya menerima h
Read more